Aku pernah gagal. Bukan sekali dua kali bahkan berulangkali. Tapi yang paling membekas adalah saat aku benar-benar jatuh—secara finansial, emosional, dan juga keyakinan diri.
Saya tidak bisa membohongi usia. Kaki tak lagi sekuat dulu, fisik tak lagi seprima dulu. Dulu satu hari bisa penuh dengan aktivitas, sekarang harus diselingi duduk, istirahat, atau sekadar menarik napas dalam-dalam.
Ada masa dalam hidup saya, di mana tidur nyenyak terasa seperti kemewahan. Bukan karena tidak punya kasur yang empuk, tapi karena pikiran terus terjaga. Target kerja, cicilan, tekanan — semua berkumpul di kepala. Tubuh rebah, tapi hati masih berlari.
Dulu, ketika badan terasa pegal, saya tinggal minum obat atau tidur sebentar. Bangun tidur, segar kembali. Tapi sekarang, sakit sedikit saja… terasa lama. Masuk angin butuh dua hari. Pundak kaku tak kunjung reda. Dan punggung seakan tahu kapan saya duduk Continue reading →
Di masa muda, kita diajari untuk cepat. Berpikir cepat. Bertindak cepat. Respons cepat. Reaksi cepat. Kata orang, dunia ini milik mereka yang bergerak cepat.
Saya pernah percaya itu. Bahkan saya pernah mengukur nilai diri saya dari seberapa cepat saya bisa Continue reading →
Saat masih kecil, sehari terasa panjang sekali. Menunggu sore tiba agar bisa main sepeda, rasanya seperti menanti lebaran. Libur seminggu saat sekolah, terasa seperti sebulan. Tapi kini, saya kadang merasa baru saja membuka mata… tahu-tahu sudah senja. Sudah sore, sudah Continue reading →