hardiyanto

Kenapa Waktu Kini Terasa Lebih Cepat?

Saat masih kecil, sehari terasa panjang sekali.
Menunggu sore tiba agar bisa main sepeda, rasanya seperti menanti lebaran. Libur seminggu saat sekolah, terasa seperti sebulan. Tapi kini, saya kadang merasa baru saja membuka mata… tahu-tahu sudah senja. Sudah sore, sudah malam. Sudah akhir pekan. Sudah bulan depan. Dan entah sejak kapan, tahun juga sudah berganti.

Waktu seperti berlari, dan saya tidak lagi sanggup mengejarnya.

Dulu saya kira ini hanya perasaan. Tapi semakin bertambah usia, semakin saya mengerti: waktu memang tidak berubah, tapi kita yang berubah.
Dulu kita hidup dengan penuh rasa penasaran, penuh jeda, penuh perasaan hadir. Sekarang, begitu banyak hal yang dilakukan sambil lalu. Pikiran ke mana-mana, tapi badan tetap bergerak. Kadang pekerjaan belum selesai, tapi pikiran sudah loncat ke hal berikutnya.

Di usia seperti ini, saya mulai menyadari bahwa rasa cepatnya waktu bukan karena jam bergerak lebih cepat, tapi karena kita tak lagi hidup dengan perlahan.

Kita tak lagi menikmati saat mengupas jeruk pelan-pelan.
Tak lagi benar-benar duduk untuk menikmati teh sore.
Tak lagi merenung setelah shalat, karena buru-buru buka HP.
Tak lagi menyentuh buku, karena lebih mudah menggulir layar.

Dan diam-diam, waktu pun mengalir — tidak lagi meninggalkan jejak yang dalam.

Maka saya mulai belajar memelankan diri. Bukan karena waktu bisa ditahan, tapi karena saya ingin merasakan kembali kehadiran saya di dalamnya. Saya ingin tahu rasanya pagi, bukan hanya melihat jam. Saya ingin tahu bunyi hujan, bukan hanya tahu atap basah.

Saya ingin hidup perlahan — karena waktu yang terasa lambat, justru sering kali adalah waktu yang paling bermakna.