Di masa muda, kita diajari untuk cepat.
Berpikir cepat. Bertindak cepat. Respons cepat. Reaksi cepat.
Kata orang, dunia ini milik mereka yang bergerak cepat.
Saya pernah percaya itu.
Bahkan saya pernah mengukur nilai diri saya dari seberapa cepat saya bisa mencapai sesuatu: penghasilan, keputusan besar, perubahan hidup.
Tapi semakin saya bertambah usia, semakin saya belajar bahwa tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang lambat itu tertinggal.
Ada orang yang cepat mengambil keputusan, lalu menyesal seumur hidup.
Ada orang yang lambat melangkah, tapi setiap langkahnya penuh pertimbangan dan keberkahan.
Ada yang cepat kaya, tapi hatinya sempit.
Ada yang rezekinya biasa saja, tapi hidupnya tenang dan cukup.
Sekarang saya sadar, melambat bukan berarti kalah.
Melambat adalah memilih untuk tidak tergesa.
Melambat adalah cara saya menghargai proses.
Melambat adalah ketika saya tidak hanya ingin sampai tujuan, tapi juga ingin menikmati perjalanannya.
Saya tidak lagi iri melihat orang lain yang tampak lebih maju.
Saya tidak lagi merasa terlambat hanya karena belum sebesar mereka.
Karena mungkin… saya memang tidak sedang berlomba.
Saya sedang berjalan.
Menemukan, belajar, memahami, menenangkan.
Dan kalau pun saya sampai lebih akhir dari orang lain, saya ingin sampai dengan hati yang tidak rusak karena terburu-buru.
Di usia ini, saya tidak ingin menjadi yang tercepat.
Saya ingin menjadi yang paling sadar ke mana saya melangkah.
Karena bagi saya, itu lebih penting… dan lebih membahagiakan.