Aku pernah gagal. Bukan sekali dua kali bahkan berulangkali. Tapi yang paling membekas adalah saat aku benar-benar jatuh—secara finansial, emosional, dan juga keyakinan diri.
Saya tidak bisa membohongi usia. Kaki tak lagi sekuat dulu, fisik tak lagi seprima dulu. Dulu satu hari bisa penuh dengan aktivitas, sekarang harus diselingi duduk, istirahat, atau sekadar menarik napas dalam-dalam.
Ada masa dalam hidup saya, di mana tidur nyenyak terasa seperti kemewahan. Bukan karena tidak punya kasur yang empuk, tapi karena pikiran terus terjaga. Target kerja, cicilan, tekanan — semua berkumpul di kepala. Tubuh rebah, tapi hati masih berlari.
Di masa muda, kita diajari untuk cepat. Berpikir cepat. Bertindak cepat. Respons cepat. Reaksi cepat. Kata orang, dunia ini milik mereka yang bergerak cepat.
Saya pernah percaya itu. Bahkan saya pernah mengukur nilai diri saya dari seberapa cepat saya bisa Continue reading →
Dulu, pagi-pagi adalah lomba. Lomba dengan waktu, dengan alarm yang kadang tidak sempat dimatikan, sebagian orang sibuk dengan urusan anak-anak sekolah, kemacetan, lalu setumpuk kerjaan. Bahkan secangkir kopi di rumahpun kadang hanya diseruput separuh — sisanya dingin di meja, terlupakan. Continue reading →