Saya tidak bisa membohongi usia.
Kaki tak lagi sekuat dulu, fisik tak lagi seprima dulu.
Dulu satu hari bisa penuh dengan aktivitas, sekarang harus diselingi duduk, istirahat, atau sekadar menarik napas dalam-dalam.
Tubuh ini tak lagi muda, memang.
Tapi itu bukan berarti saya sudah tidak bisa apa-apa.
Saya masih bisa berjalan pagi.
Masih bisa membantu orang rumah, beres-beres perabotan, atau sekedar mencuci motor.
Masih bisa memegang pena, atau mengetik kata demi kata seperti sekarang.
Masih bisa menjadi tempat bertanya, tempat bercerita, tempat pulang bagi anak-anak yang kini mulai sibuk sendiri.
Yang berubah bukan hanya tenaga, tapi cara saya memaknai tenaga itu sendiri.
Dulu, saya bangga jika bisa bekerja keras seharian penuh.
Sekarang, saya bersyukur jika bisa menyelesaikan satu hal dengan tenang, tanpa tergesa, dan tanpa menyakiti tubuh saya sendiri.
Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya masih sekuat dulu.
Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya masih ada, masih berarti, dan masih bisa memberi.
Terkadang, hal-hal besar bisa datang dari tubuh yang sederhana.
Doa saya bisa menjadi pelindung bagi anak yang mulai mandiri.
Kehadiran saya bisa menjadi pelipur bagi orang yang hanya butuh teman bicara.
Tubuh ini boleh saja melemah.
Tapi saya berusaha hati masih hangat, dan tangan saya masih ingin berbuat baik.
Dan saya yakin… selama tubuh ini masih bernapas, masih bisa sujud, masih bisa menolong, masih bisa menulis — maka masih banyak hal baik yang bisa saya lakukan.