Spiritualitas & Agama
Tobat
Ada hal-hal yang tidak perlu diceritakan.
Termasuk urusan saya dengan Tuhan.
Saya tidak pandai berkata-kata soal tobat.
Tidak pernah merasa cukup baik untuk berkata “saya sudah berubah.”
Tapi dalam hati, ada ruang yang terus saya isi dengan penyesalan
untuk mengingat bahwa saya pernah jauh, dan Allah masih memberi waktu untuk dekat. Continue reading
Tuhan Tidak Pernah Jauh, Saya Saja yang Sibuk
Dulu saya sering merasa jauh dari Tuhan.
Bukan karena tidak percaya, bukan karena membenci, tapi karena terlalu sibuk.
Sibuk mengejar dunia.
Sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Sibuk mengurus ini dan itu.
Sampai-sampai… saya lupa bahwa ada yang selalu menunggu saya untuk pulang. Continue reading
Bukan Lagi Tentang Banyaknya Doa, Tapi Dalamnya Sujud
Dulu, saya sering mengukur ibadah dari jumlahnya.
Berapa banyak doa yang saya panjatkan.
Berapa panjang dzikir yang saya ulang.
Berapa halaman Al-Qur’an yang saya baca dalam sehari.
Dan berapa banyak target ibadah yang bisa saya selesaikan dalam seminggu. Continue reading
Ada Hikmah dalam Hal yang Tidak Saya Dapatkan
Dalam hidup, saya pernah menginginkan banyak hal.
Ada yang saya usahakan sungguh-sungguh, ada pula yang saya doakan terus-menerus.
Sebagian berhasil saya raih. Tapi sebagian lagi… tidak pernah saya dapatkan. Continue reading
Dosa Jariyah Karena Sampah
Membuang sampah sembarangan di tempat yang tidak semestinya merupakan tindakan yang tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga memicu konflik antarwarga. Contohnya, ketika seseorang membuang sampah di kebun milik orang lain, tindakan ini bisa membuat pemilik kebun merasa marah dan terganggu. Tidak hanya karena kebersihan yang tercemar, tetapi juga karena sampah tersebut dapat merusak tanaman dan mengurangi keindahan serta produktivitas kebun. Akibatnya, hubungan baik antarwarga menjadi tegang hanya karena perilaku yang seharusnya bisa dihindari. Continue reading
Lebaran yang kembali Normal
Lebaran tahun 2022 kali ini terasa beda, saya melihat sesuatu yang normal telah kembali. Lebaran yang identik dengan keramaian, kemacetan dan fenomena mudik kini telah datang, yang sebelumnya aktivitas seperti ini terhenti. Bisa dimaklumi, setelah 2 tahun negara kita terkungkung dengan repotnya pandemi covid 19 sehingga kegiatan masyarakat terkesan lumpuh, bukan hanya sektor ekonomi tetapi pendidikan, sosial, kegiatan peribadahan dan lain-lain juga terkena dampaknya
Ketika Pemerintah mengumumkan hari libur dan cuti masal menghadapi hari raya idul fitri tahun 1443 H ini, ditambah dengan dibolehkannya mudik, saya lihat masyarakat menyambutnya dengan semangat. Persyaratan vaksin bagi pemudik dan mereka yang bepergian di hadapi dengan antusiasme masyarakat mengikuti vaksin, antrian begitu mengular untuk mereka yang mendaftar dan akan melakukan vaksinasi.
Beberapa hari menjelang lebaran sudah terlihat geliat ramai dan bangkitnya alat transportasi, untuk moda transportasi kereta api sudah hampir penuh ketersediaan tempat duduk. Kemudahan dalam pemesanan tiket melalui aplikasi online membuat orang berebut, Andaikan bisa terlihat secara kasat mata tentu bisa kita lihat bagaimana ramainya manusia ini dalam memperjuangkan mendapatkan tiket.
Di dalam kereta sendiri sudah tidak ada lagi jaga jarak, bagaimana protokol kesehatan ini diterapkan sebagaimana sebelum-sebelumnya, Sehingga semua tempat duduk boleh terisi semua. memang untuk penggunaan masker masih diwajibkan bagi para penumpang. Bahkan kru dan petugas kereta juga membagikan masker gratis.
Hiruk pikuk dan keramaian di stasiun juga terasa saat saya juga berkesempatan pulang kampung. Stasiun Pasar Senen sekarang sudah terlihat tertib, jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu dimana saat itu kesemrawutan, calo tiket dan terkesan tidak profesionalnya manajemen terlihat sekali. Sekarang sudah beda, terlihat rapi, bagus, dan tertib.
Selain Kereta api, bus kota juga mengalami peningkatan jumlah penumpang yang sangat signifikan, bahkan 100 persen tempat duduk juga telah terisi. Ini saya buktikan ketika saya coba pertama memilih moda transportasi ini, beberapa biskota yang mempunya sistempemesaanan tiket via aplikasi online, sudah kehabisan tempat duduk menjelang beberapa hari H lebaran.
Sebagian besar yang lain, masyarakat mudik dengan menggunakan kendaraan pribadinya. Sehingga terlihat macet dimana-mana. Bahkan diperkirakan hamper 2 juta kendaraan keluar dari jakarta. Petugas pun harus memberakukan arus satu arah (one way) di jalur tolnya, demi mengurai kemacetan yang terjadi. Pembangunan infrastruktur, khususnya jalan yang demikian masif, sedikit banyak memang membantu kelancaran perjalanan mudik kali ini dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Ketika perjalanan ke arah timur (jawa Tengah) cenderung macet normal, kejadian sebaliknya terjadi,yaitu arah Jakarta merak, sehingga horror kemacetan terjadi. Perjalanan yang mungkin ditempuh 2-3 jam bisa mencapai 12 jam. Akhirnya banyak penumpang yang tiket kapalnya menjadi hangus tidak terpakai, karena tidak keburu sampai pelabuhan.
Bahkan, kendaraan roda dua juga mewarnai ramainya mudik kali ini, mereka yang sudah tidak punya akses lagi ke tiket kendaraan umum, tiada mobil akhirnya memanfaatkan kendaraan roda dua ini,meskipun resikonya juga besar dan harus hati-hati. Lengah sedikit, bisa tersenggol kendaraan besar , bisa fatal akibatnya.
Begitulah, lebaran normal telah kembali datang, kemacetan telah kembali menyapa.