Dulu saya sering merasa jauh dari Tuhan.
Bukan karena tidak percaya, bukan karena membenci, tapi karena terlalu sibuk.
Sibuk mengejar dunia.
Sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Sibuk mengurus ini dan itu.
Sampai-sampai… saya lupa bahwa ada yang selalu menunggu saya untuk pulang.
Saya datang ke masjid hanya ketika ada waktu luang.
Membuka Al-Qur’an hanya saat hati sedang sepi.
Berdoa hanya ketika hidup sedang sulit.
Dan ketika semua terasa berat, saya mulai bertanya,
“Kenapa saya merasa Tuhan menjauh?”
Tapi sekarang saya sadar:
Tuhan tidak pernah jauh. Sayalah yang terlalu sibuk… sampai tidak sempat mendekat.
Tuhan tidak meninggalkan saya.
Saya saja yang perlahan-lahan menjauh, sedikit demi sedikit, tanpa sadar.
Dan meski begitu, Dia tetap menyambut saya saat kembali.
Tidak menegur dengan keras, tidak menghukum dengan benci —
hanya mengirimkan rindu lewat kegelisahan… dan mengundang saya lewat kesepian.
Saya belajar satu hal penting:
kesibukan bukan alasan untuk jauh dari Allah, justru seharusnya menjadi alasan untuk semakin mendekat.
Karena tak ada tempat sebaik itu untuk beristirahat — selain di hadapan-Nya.
Kini saya tak ingin menunggu sempit baru ingat sujud.
Saya tak ingin menunggu kehilangan baru ingat zikir.
Saya tak ingin menunggu gelap baru ingat cahaya-Nya.
Saya ingin datang… sebelum saya hilang.
Saya ingin kembali… sebelum saya benar-benar tersesat.
Karena ternyata, Allah tidak pernah pergi.
Saya saja yang terlalu sibuk dengan dunia,
sampai lupa bahwa akhirat sedang menunggu.