hardiyanto

Tuhan Tidak Pernah Jauh, Saya Saja yang Sibuk

Dulu saya sering merasa jauh dari Tuhan.
Bukan karena tidak percaya, bukan karena membenci, tapi karena terlalu sibuk.
Sibuk mengejar dunia.
Sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Sibuk mengurus ini dan itu.
Sampai-sampai… saya lupa bahwa ada yang selalu menunggu saya untuk pulang.

Saya datang ke masjid hanya ketika ada waktu luang.
Membuka Al-Qur’an hanya saat hati sedang sepi.
Berdoa hanya ketika hidup sedang sulit.

Dan ketika semua terasa berat, saya mulai bertanya,
“Kenapa saya merasa Tuhan menjauh?”

Tapi sekarang saya sadar:
Tuhan tidak pernah jauh. Sayalah yang terlalu sibuk… sampai tidak sempat mendekat.

Tuhan tidak meninggalkan saya.
Saya saja yang perlahan-lahan menjauh, sedikit demi sedikit, tanpa sadar.

Dan meski begitu, Dia tetap menyambut saya saat kembali.
Tidak menegur dengan keras, tidak menghukum dengan benci —
hanya mengirimkan rindu lewat kegelisahan… dan mengundang saya lewat kesepian.

Saya belajar satu hal penting:
kesibukan bukan alasan untuk jauh dari Allah, justru seharusnya menjadi alasan untuk semakin mendekat.
Karena tak ada tempat sebaik itu untuk beristirahat — selain di hadapan-Nya.

Kini saya tak ingin menunggu sempit baru ingat sujud.
Saya tak ingin menunggu kehilangan baru ingat zikir.
Saya tak ingin menunggu gelap baru ingat cahaya-Nya.

Saya ingin datang… sebelum saya hilang.
Saya ingin kembali… sebelum saya benar-benar tersesat.

Karena ternyata, Allah tidak pernah pergi.
Saya saja yang terlalu sibuk dengan dunia,
sampai lupa bahwa akhirat sedang menunggu.