#04 – Aku Tahu Ada Batas Itu
“Bukan semua jalan yang terlihat indah harus ditempuh. Ada jalan yang cukup dipandang dari kejauhan, lalu dihormati batas-batasnya.”
Setelah sekian lama berusaha menyangkal, akhirnya aku sampai pada satu titik yang tidak bisa lagi kuhindari.
Aku harus jujur kepada diriku sendiri.
Ya, aku mencintaimu.
Mungkin tidak sempurna.
Mungkin tidak seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita romantis.
Mungkin juga tanpa harapan untuk memiliki.
Namun perasaan itu ada.
Nyata.
Dan tidak lagi bisa kusembunyikan dari diriku sendiri.
Anehnya, pengakuan itu tidak membuat segalanya menjadi lebih mudah.
Justru sebaliknya.
Karena setelah mengakui perasaan itu, aku harus berhadapan dengan kenyataan yang sejak awal sudah kuketahui.
Kenyataan yang selama ini berdiri diam di hadapanku.
Kenyataan yang tidak pernah berubah.
Kenyataan yang tidak pernah pergi.
Ada batas itu.
Dan aku mengetahuinya sejak hari pertama.
Bukan setelah aku mencintaimu.
Bukan setelah perasaan itu tumbuh.
Melainkan sejak awal.
Sejak aku mulai mengenalmu.
Sejak aku mengetahui kehidupanmu.
Sejak aku memahami keadaan yang ada.
Aku sudah tahu.
Karena itu, sebenarnya pertarungan terbesar dalam diriku bukanlah antara cinta dan tidak cinta.
Pertarungan terbesarnya adalah antara perasaan dan kenyataan.
Aku tidak pernah bertanya apakah aku mencintaimu atau tidak.
Aku lebih sering bertanya:
“Mengapa perasaan ini tetap tumbuh padahal aku sudah tahu semuanya?”
Sampai hari ini pun aku tidak memiliki jawabannya.
Mungkin karena hati tidak pernah membaca peta sebelum memulai perjalanan.
Ia tidak pernah bertanya apakah tujuan itu mungkin dicapai.
Ia hanya mengenal rasa.
Dan rasa itu tumbuh tanpa meminta persetujuan siapa pun.
Namun berbeda dengan hati, hidup tidak dibangun hanya dengan rasa.
Ada nilai.
Ada tanggung jawab.
Ada kehormatan.
Ada batas yang harus dijaga.
Dan aku memahami semua itu.
Karena itulah aku tidak pernah marah kepada keadaan.
Aku tidak pernah menyalahkan dirimu.
Aku juga tidak menyalahkan diriku sendiri.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang keliru.
Tidak ada yang harus disesali.
Kita hanya dipertemukan dalam kondisi yang memang tidak memungkinkan untuk menjadi sesuatu yang lain.
Sesederhana itu.
Mungkin di situlah letak pelajaran terberatnya.
Karena jauh lebih mudah menerima ketika seseorang tidak mencintai kita.
Jauh lebih mudah menerima ketika jarak memisahkan.
Jauh lebih mudah menerima ketika waktu membuat dua orang berpisah.
Tetapi menerima bahwa seseorang tidak mungkin dimiliki meskipun ia begitu berarti bagi kita, adalah pelajaran yang berbeda.
Pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah mana pun.
Pelajaran yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya.
Ada malam-malam ketika aku bertanya kepada diriku sendiri.
Bagaimana jika keadaan berbeda?
Bagaimana jika batas itu tidak ada?
Bagaimana jika hidup mengambil jalan yang lain?
Namun semakin bertambah usia, aku mulai memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah membawa ke mana-mana.
Karena hidup tidak dibangun dari “seandainya.”
Hidup dibangun dari kenyataan.
Dan kenyataannya adalah, batas itu ada.
Kenyataannya adalah, aku harus menghormatinya.
Kenyataannya adalah, tidak semua keinginan hati boleh diperjuangkan.
Ada keinginan yang harus disimpan.
Ada harapan yang harus dilepaskan.
Ada cinta yang harus belajar tinggal di tempatnya.
Bukan karena cintanya salah.
Melainkan karena keadaan tidak mengizinkannya menjadi apa-apa selain sebuah perasaan.
Lalu perlahan aku mulai menyadari sesuatu.
Mungkin Tuhan tidak sedang mengajariku bagaimana cara mendapatkan apa yang kuinginkan.
Mungkin Tuhan sedang mengajariku bagaimana cara menghormati apa yang tidak boleh kumiliki.
Dan pelajaran itu jauh lebih sulit.
Karena mendapatkan sesuatu sering kali hanya membutuhkan usaha.
Tetapi melepaskan keinginan untuk memiliki membutuhkan kedewasaan.
Aku tidak mengatakan bahwa sejak saat itu semuanya menjadi mudah.
Tidak.
Perasaan itu masih ada.
Kepedulian itu masih ada.
Doa-doa itu masih ada.
Namun ada sesuatu yang mulai berubah.
Aku berhenti mencari kemungkinan.
Aku berhenti membayangkan jalan yang tidak ada.
Aku berhenti bertanya mengapa.
Untuk pertama kalinya, aku mulai belajar menerima.
Bukan menerima karena menyerah.
Melainkan menerima karena memahami.
Memahami bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Memahami bahwa tidak semua yang indah harus menjadi milik.
Memahami bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus berjalan bersamanya.
Dan sejak hari itu, aku membuat sebuah janji
Aku akan menjaga perasaan ini sebaik mungkin.
Aku tidak akan membiarkannya berubah menjadi obsesi.
Aku tidak akan membiarkannya melukai siapa pun.
Aku tidak akan membiarkannya membuatku melupakan jalan hidup yang telah Tuhan tetapkan.
Aku akan menjaganya tetap bersih.
Tetap terhormat.
Tetap pada tempatnya.
Meskipun aku belum mengetahui bagaimana caranya.
Meskipun aku belum mengetahui sampai kapan.
Namun untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa jalan yang harus kutempuh bukanlah jalan untuk memilikimu.
Melainkan jalan untuk berdamai dengan kenyataan bahwa aku tidak akan pernah memilikimu.
Dan ternyata, itulah perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.