#05 – Perasaan yang Tidak Seharusnya Tumbuh

“Kadang yang paling sulit diterima bukanlah kenyataan bahwa kita tidak bisa memiliki seseorang, melainkan kenyataan bahwa hati tetap memilihnya meski mengetahui semuanya.”

Setelah aku mengakui perasaan itu kepada diriku sendiri, aku berharap semuanya menjadi lebih mudah.
Aku kira dengan menerima kenyataan, kegelisahan itu akan berkurang.
Aku kira dengan memahami batas-batas yang ada, hati akan perlahan mengikuti logika.

Namun ternyata aku keliru.
Perasaan tidak bekerja seperti itu.
Ia tidak tunduk hanya karena kita memahami keadaan.
Ia tidak pergi hanya karena kita mengetahui bahwa jalan di depannya tertutup.

Ia tetap ada.
Diam.
Tenang.
Tetapi nyata.
Dan itulah yang sering membuatku bertanya.
Mengapa?

Mengapa perasaan ini tetap tumbuh padahal sejak awal aku sudah mengetahui bahwa ia tidak memiliki tempat untuk berlabuh?
Bukankah lebih mudah jika aku tidak pernah merasakan apa-apa?
Bukankah lebih tenang jika aku hanya mengenalmu sebagai seseorang yang baik, lalu melanjutkan hidup seperti biasa?
Bukankah lebih sederhana jika hati ini memilih jalan yang lain?

Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah menemukan jawaban.
Karena mungkin cinta memang bukan sesuatu yang selalu bisa dijelaskan.
Ada banyak hal dalam hidup yang bisa dipilih.
Pekerjaan.
Tempat tinggal.
Lingkungan pergaulan.
Bahkan sebagian besar keputusan besar dalam hidup.

Namun sering kali kita tidak memilih kepada siapa hati kita merasa nyaman.
Kita tidak memilih kepada siapa kita merasa peduli.
Dan kita tidak memilih kepada siapa rasa sayang itu tumbuh.

Semua terjadi begitu saja.

Tanpa meminta izin.
Tanpa bertanya apakah waktunya tepat.
Tanpa mempertimbangkan apakah keadaannya memungkinkan.
Mungkin itulah sebabnya aku berhenti menyalahkan diriku sendiri.

Untuk waktu yang lama, aku menganggap perasaan ini sebagai kesalahan.
Aku berpikir bahwa aku seharusnya lebih kuat.
Lebih rasional.
Lebih mampu mengendalikan hati.

Namun semakin aku merenungkannya, semakin aku memahami bahwa yang salah bukanlah perasaannya.
Yang menentukan nilai seseorang bukanlah perasaan yang hadir di dalam hatinya.
Melainkan bagaimana ia menyikapi perasaan itu.

Aku tidak pernah memilih untuk mencintaimu.
Tetapi aku bisa memilih untuk menghormati batas yang ada.
Aku bisa memilih untuk tidak mengganggu kehidupanmu.

Aku bisa memilih untuk tidak membiarkan perasaan ini berubah menjadi sesuatu yang merugikan siapa pun.
Dan pilihan-pilihan itulah yang akhirnya memberiku ketenangan.
Bukan karena cintanya hilang.
Melainkan karena aku mulai berdamai dengannya.

Aku tidak lagi berusaha mengusirnya setiap hari.
Aku tidak lagi memaksa diriku untuk melupakan.
Aku tidak lagi menghukum diriku karena masih peduli.
Sebaliknya, aku mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Mungkin perasaan ini memang tidak seharusnya tumbuh.
Tetapi karena ia telah tumbuh, aku harus belajar merawatnya dengan cara yang benar.
Seperti seseorang yang menjaga api kecil agar tetap memberi kehangatan tanpa membiarkannya membakar apa pun.

Aku tidak ingin cinta ini menjadi alasan untuk melanggar prinsip-prinsip yang kupegang.
Aku tidak ingin cinta ini membuatku kehilangan arah.
Aku tidak ingin cinta ini menjadikanku orang yang berbeda dari diriku yang sebenarnya.

Karena itu aku mulai memahami bahwa tugas terbesarku bukanlah menghilangkan perasaan ini.
Tugas terbesarku adalah menjaganya agar tetap berada pada tempat yang semestinya.

Kadang aku masih bertanya kepada Tuhan.
Mengapa Engkau membiarkan rasa ini hadir?
Mengapa Engkau mempertemukan aku dengannya jika jalan kami memang berbeda?

Namun seiring waktu, pertanyaan itu perlahan berubah.
Aku tidak lagi bertanya “mengapa.”
Aku mulai bertanya, “apa yang harus kupelajari dari semua ini?”

Dan mungkin itulah awal dari kedewasaan.
Ketika kita berhenti menuntut jawaban, lalu mulai mencari makna.
Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk berjalan bersamamu.

Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian penting dalam hidupmu.
Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk mengenalmu, menghormatimu, lalu melanjutkan perjalanan hidupku sendiri.
Dan jika memang demikian, aku mulai belajar menerimanya.

Karena tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian cinta datang hanya untuk mengajarkan bahwa hati manusia mampu menyayangi dengan tulus tanpa harus menggenggam.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir bahwa mungkin perasaan ini bukanlah musuh yang harus kuusir.

Mungkin ia hanyalah tamu yang harus kuterima dengan bijaksana.
Tamu yang tidak akan tinggal selamanya.
Atau mungkin akan tinggal sangat lama.
Aku tidak tahu.

Yang aku tahu hanyalah satu hal.
Aku tidak lagi ingin melawan perasaan ini.
Aku hanya ingin belajar hidup berdampingan dengannya.