#08 – Tidak Semua Cinta Ditakdirkan Bersatu

“Sebagian pertemuan ditakdirkan untuk menemani perjalanan. Sebagian lainnya ditakdirkan hanya untuk meninggalkan pelajaran.”

Setelah sekian lama berjuang dengan pikiranku sendiri, perlahan aku mulai memahami sesuatu yang sebelumnya sulit kuterima.
Tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersatu.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun membutuhkan waktu yang sangat panjang sebelum akhirnya aku benar-benar memahaminya.

Dulu, aku selalu berpikir bahwa setiap perasaan memiliki tujuan.
Jika seseorang mencintai, maka ia akan berjalan menuju kebersamaan.
Jika seseorang menyayangi, maka suatu hari ia akan memiliki.
Jika seseorang menjaga perasaannya dengan baik, maka kehidupan akan memberinya kesempatan.

Begitulah yang sering diceritakan oleh banyak kisah.
Namun kehidupan nyata ternyata tidak selalu berjalan seperti cerita.
Ada cinta yang tumbuh tanpa pernah menemukan tempat untuk berlabuh.
Ada kasih sayang yang hidup bertahun-tahun tanpa pernah berubah menjadi kebersamaan.
Dan ada perasaan yang tetap tinggal meskipun sejak awal mengetahui bahwa ia tidak akan sampai ke mana-mana.

Pada awalnya aku menganggap hal itu sebagai ketidakadilan.
Mengapa seseorang harus merasakan sesuatu yang tidak mungkin dimilikinya?
Mengapa hati harus memilih jalan yang tidak dapat ditempuh?
Mengapa Tuhan mempertemukan dua manusia jika memang tidak ditakdirkan berjalan bersama?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah memenuhi pikiranku.

Namun semakin bertambah usia, semakin aku menyadari bahwa mungkin aku sedang melihat cinta dari sudut yang terlalu sempit.
Mungkin selama ini aku menganggap bahwa tujuan utama cinta adalah memiliki.
Padahal bisa jadi bukan itu tujuannya.

Mungkin tujuan cinta adalah mengubah seseorang menjadi lebih baik.
Mungkin tujuan cinta adalah mengajarkan ketulusan.
Mungkin tujuan cinta adalah memperlihatkan kepada kita bahwa hati manusia mampu menyayangi tanpa harus menuntut.

Dan jika memang demikian, bukankah perasaan ini tetap memiliki makna?
Aku mulai melihat kembali perjalanan yang telah kulalui.
Jika aku tidak pernah mengenalmu, mungkin aku tidak akan belajar banyak hal tentang diriku sendiri.

Aku tidak akan memahami betapa rapuhnya hati manusia.
Aku tidak akan memahami bahwa kedewasaan bukan hanya soal usia.
Aku tidak akan memahami bahwa ada kalanya melepaskan jauh lebih sulit daripada mendapatkan.

Dan aku mungkin tidak akan memahami bahwa cinta yang paling tulus sering kali berjalan dalam diam.
Sedikit demi sedikit, sudut pandangku berubah.
Aku tidak lagi melihat perasaan ini sebagai kegagalan.
Aku juga tidak melihatnya sebagai hukuman.

Aku mulai melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang memang harus kulalui.
Bukan perjalanan yang kupilih.
Tetapi perjalanan yang mengajariku banyak hal.

Meski demikian, penerimaan tidak selalu berarti ketenangan.
Ada hari-hari ketika aku mampu melihat semuanya dengan jernih.
Ada hari-hari ketika aku mampu bersyukur.
Namun ada pula hari-hari ketika kesedihan datang kembali tanpa diundang.

Hari-hari ketika kenyataan terasa lebih berat daripada biasanya.
Hari-hari ketika aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar mampu menjalani semua ini.
Karena menerima sebuah kenyataan tidak berarti rasa sakitnya langsung hilang.

Kadang akal sudah menerima.
Tetapi hati masih membutuhkan waktu.
Dan mungkin itulah yang sedang terjadi padaku.

Aku memahami bahwa tidak semua cinta ditakdirkan bersatu.
Aku memahami bahwa hidup harus terus berjalan.
Aku memahami bahwa jalan hidupmu dan jalan hidupku memang berbeda.
Namun memahami tidak selalu berarti selesai.

Masih ada bagian dalam diriku yang belum sepenuhnya damai.
Masih ada ruang sunyi yang sesekali terasa kosong.
Masih ada malam-malam ketika pikiranku berjalan terlalu jauh.

Aku tidak lagi berharap memilikimu.
Tetapi aku belum sepenuhnya terbebas dari kesedihan karena tidak bisa memilikimu.
Dan perbedaan itu ternyata sangat besar.

Malam demi malam berlalu.
Waktu terus bergerak.
Sementara aku masih belajar menerima sesuatu yang sebenarnya sudah kuterima.

Sampai akhirnya aku memasuki masa yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Masa ketika aku tidak lagi berjuang melawan perasaan.
Tetapi mulai kehilangan arah karena hidup berdampingan dengan perasaan itu.

Sebuah masa yang diam-diam menguras tenaga.
Sebuah masa yang tidak diketahui siapa pun.
Sebuah masa ketika aku mulai mempertanyakan banyak hal.

Dan tanpa kusadari, itulah awal dari musim paling sunyi dalam perjalanan ini.