#09 – Aku Memilih Menjaga Jarak
“Tidak semua jarak diciptakan oleh kilometer. Sebagian diciptakan oleh pilihan untuk menjaga apa yang tidak boleh disentuh.”
Pada suatu titik dalam perjalanan ini, aku menyadari bahwa aku harus mengambil keputusan.
Bukan keputusan tentang perasaanku.
Karena aku sudah terlalu lama memahami bahwa perasaan itu tidak bisa diperintah sesuka hati.
Melainkan keputusan tentang sikapku.
Tentang bagaimana aku akan menjalani hari-hariku setelah menyadari semua kenyataan ini.
Dan setelah banyak pertimbangan, dan banyak percakapan dengan diriku sendiri, aku memilih menjaga jarak.
Bukan karena aku membencimu.
Bukan karena aku kecewa kepadamu.
Bukan karena aku ingin melupakanmu.
Justru karena sebaliknya.
Karena aku menghormatimu.
Karena aku menghargai kehidupan yang sedang kaujalani.
Karena aku tidak ingin perasaanku menjadi alasan untuk mengganggu ketenangan hidup siapa pun.
Aku tahu sebagian orang mungkin tidak memahami keputusan seperti ini.
Mereka mungkin berpikir bahwa cinta harus diperjuangkan.
Bahwa jika seseorang benar-benar mencintai, maka ia harus mendekat.
Harus berusaha.
Harus mengejar.
Namun aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Karena tidak semua perjuangan berarti mendekat.
Kadang perjuangan terbesar justru adalah menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh.
Kadang perjuangan terbesar adalah tetap berada di tempat ketika hati ingin mendekat.
Dan itulah yang sedang kulakukan.
Aku tidak menjauh darimu karena perasaanku berkurang.
Aku menjauh karena aku ingin menjaga agar perasaan itu tetap terhormat.
Aku tidak ingin cinta ini berubah menjadi sesuatu yang egois.
Aku tidak ingin kepedulianku berubah menjadi tuntutan.
Aku tidak ingin rasa sayang ini berubah menjadi alasan untuk mengabaikan batas yang selama ini kujaga.
Karena itu aku memilih satu jalan yang mungkin tidak mudah.
Aku akan tetap peduli.
Tetapi dari jauh.
Aku akan tetap menghormatimu.
Tetapi dari jauh.
Aku akan tetap mendoakanmu.
Tetapi dari jauh.
Dan mungkin, itulah bentuk kedekatan yang paling mungkin bagiku.
Pada awalnya aku mengira keputusan ini akan memberiku ketenangan.
Aku berpikir bahwa setelah menjaga jarak, semuanya akan menjadi lebih mudah.
Aku berpikir bahwa waktu akan segera menyelesaikan apa yang tidak mampu kuselesaikan sendiri.
Namun ternyata kehidupan tidak sesederhana itu.
Menjaga jarak secara fisik ternyata jauh lebih mudah daripada menjaga jarak di dalam hati.
Tubuh bisa menjauh.
Langkah bisa berhenti.
Percakapan bisa berkurang.
Pertemuan bisa dihindari.
Tetapi hati memiliki caranya sendiri untuk tetap mengingat.
Dan itulah bagian yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Ada saat-saat ketika aku berhasil menjalani semuanya dengan baik.
Hari-hari terasa normal.
Kesibukan mengisi waktu.
Pekerjaan menuntut perhatian.
Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.
Namun ada pula saat-saat tertentu ketika namamu kembali melintas tanpa diundang.
Sebuah kenangan kecil.
Sebuah percakapan lama.
Sebuah hal sederhana yang tiba-tiba mengingatkanku kepadamu.
Dan pada saat-saat seperti itu, aku hanya bisa tersenyum kecil.
Bukan karena bahagia.
Bukan pula karena sedih.
Melainkan karena aku menyadari bahwa beberapa hal memang tidak bisa dipaksa pergi.
Semakin aku bertambah usia, semakin aku memahami bahwa melupakan bukanlah tujuan.
Tujuannya adalah berdamai.
Aku tidak harus menghapus semua jejak tentangmu dari ingatanku.
Aku tidak harus berpura-pura bahwa perasaan itu tidak pernah ada.
Aku hanya harus memastikan bahwa semua itu tidak menguasai hidupku.
Bahwa semua itu tetap berada pada tempatnya.
Dan itulah yang terus kuusahakan.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Dengan segala keterbatasanku sebagai manusia biasa.
Kadang aku berhasil.
Kadang aku tidak.
Namun aku terus mencoba.
Karena aku tahu bahwa menjaga jarak bukan hanya tentang dirimu.
Ini juga tentang diriku sendiri.
Tentang menjaga prinsip-prinsip yang kupercaya.
Tentang menjaga kehormatan perasaan yang telah tumbuh.
Tentang menjaga agar cinta ini tetap menjadi sesuatu yang baik.
Bukan sesuatu yang melukai.
Bukan sesuatu yang merusak.
Bukan sesuatu yang harus disesali.
Maka aku memilih tetap berada di sini.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Cukup untuk mengetahui bahwa engkau baik-baik saja.
Cukup untuk tetap menyimpan doa ketika namamu terlintas dalam pikiranku.
Dan cukup untuk menerima bahwa mungkin inilah bentuk cinta yang harus kupelajari dalam kehidupan ini.
Namun aku belum menyadari satu hal.
Bahwa setiap pilihan selalu memiliki harga.
Dan harga dari keputusan menjaga jarak itu perlahan mulai kutemukan.
Bukan di luar diriku.
Melainkan di dalam hati yang diam-diam mulai merasa lelah.
Lelah memendam.
Lelah memahami.
Lelah menerima.
Sebuah kelelahan yang pada akhirnya membawaku memasuki masa paling sunyi dalam perjalanan ini.
Masa ketika untuk pertama kalinya, aku mulai kehilangan arah.