#06 – Mengapa Harus Kamu?

“Waktu mungkin mampu mengubah banyak hal, tetapi tidak semua rasa tunduk kepada waktu.”

Ada pertanyaan yang pernah berulang kali muncul dalam pikiranku.
Pertanyaan yang sederhana.
Namun tidak pernah berhasil kujawab dengan tuntas.
Mengapa harus kamu?

Dari sekian banyak orang yang pernah kutemui dalam hidup.
Dari sekian banyak wajah yang datang dan pergi.
Dari sekian banyak percakapan yang pernah terjadi.
Mengapa justru engkau yang tetap tinggal dalam ingatanku?

Aku pernah mencoba mencari jawabannya.
Mungkin karena kebaikanmu.
Tetapi aku juga mengenal banyak orang baik.

Mungkin karena ketulusanmu.
Namun dunia ini tidak kekurangan orang-orang tulus.
Mungkin karena caramu berbicara.

Mungkin karena caramu menghargai orang lain.
Mungkin karena caramu menjalani hidup.
Atau mungkin karena semua itu sekaligus.
Aku tidak tahu.

Dan semakin lama aku mencoba menjawabnya, semakin aku menyadari bahwa tidak semua hal harus memiliki penjelasan.
Ada hal-hal yang cukup diterima sebagai bagian dari misteri kehidupan.
Sama seperti aku yang tidak pernah benar-benar memahami mengapa hatiku memilihmu.

Yang lebih aneh lagi, waktu ternyata tidak banyak membantu.
Aku pernah berpikir bahwa beberapa bulan akan cukup untuk menghapus semuanya.
Lalu aku berpikir mungkin beberapa tahun.
Kemudian tahun-tahun itu benar-benar berlalu.

Dan aku masih di sini.
Masih menjalani hidupku.
Masih menunaikan tanggung jawabku.
Masih mengejar berbagai tujuan yang harus kuselesaikan.

Namun sesekali, namamu masih melintas dalam pikiranku seperti tamu lama yang datang tanpa mengetuk pintu.
Tidak sering.
Tidak mengganggu.
Tetapi tetap ada.

Kadang aku tersenyum sendiri memikirkan hal itu.

Bukankah seharusnya pada usia seperti ini aku sudah terbebas dari urusan perasaan?
Bukankah semakin bertambah usia seseorang seharusnya semakin rasional?
Bukankah pengalaman hidup seharusnya membuat hati lebih mudah melepaskan?

Ternyata tidak selalu demikian.
Usia mengajarkan banyak hal.
Pengalaman memberi banyak pelajaran.

Namun keduanya tidak selalu menghapus apa yang pernah tertanam jauh di dalam hati.
Mereka hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengannya.
Dulu aku mengira kedewasaan berarti mampu melupakan.

Kini aku memahami bahwa kedewasaan sering kali berarti mampu menerima.
Menerima bahwa ada perasaan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar pergi.
Menerima bahwa ada nama yang akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.

Menerima bahwa ada kisah yang tidak pernah dimulai, tetapi juga tidak pernah benar-benar berakhir.
Aku tidak lagi mempermasalahkan itu.
Karena hidup telah mengajariku bahwa tidak semua hal harus diselesaikan.

Tidak semua cerita harus memiliki akhir yang jelas.
Tidak semua pertanyaan harus menemukan jawaban.
Sebagian hanya menjadi bagian dari perjalanan.

Dan engkau adalah bagian dari perjalanan itu.
Bukan tujuan.
Bukan tempat berlabuh.
Tetapi bagian dari jalan yang pernah kulewati dan meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang.

Mungkin jika aku bertemu denganmu dalam keadaan yang berbeda, ceritanya akan berbeda.
Namun hidup tidak dibangun dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Hidup dibangun dari kenyataan.

Dan kenyataannya, aku mengenalmu dalam keadaan seperti ini.
Aku menyayangimu dalam keadaan seperti ini.
Aku menghormatimu dalam keadaan seperti ini.

Dan aku belajar menerima semuanya dalam keadaan seperti ini pula.
Lambat laun aku mulai menyadari bahwa pertanyaan “Mengapa harus kamu?” bukan lagi pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Karena jawabannya tidak akan mengubah apa pun.

Tidak akan mengubah kenyataan.
Tidak akan mengubah jalan hidup kita.
Tidak akan mengubah batas-batas yang telah lama ada.

Maka aku berhenti mencarinya.
Aku berhenti membedah alasan demi alasan.
Aku berhenti mencoba memahami sesuatu yang mungkin memang tidak perlu dipahami.

Sebaliknya, aku memilih bersyukur.
Bersyukur karena pernah mengenal seseorang yang membuatku memahami arti ketulusan.
Bersyukur karena pernah belajar bahwa cinta tidak selalu identik dengan kepemilikan.
Bersyukur karena pernah merasakan bahwa hati manusia mampu menyimpan kasih sayang tanpa harus menuntut balasan.

Dan mungkin itulah jawaban yang selama ini kucari.
Bukan mengapa harus kamu.
Melainkan mengapa Tuhan mempertemukan aku denganmu.

Bukan untuk memiliki.
Bukan untuk bersama.
Tetapi untuk mengajariku sesuatu yang tidak bisa kupelajari dengan cara lain.

Bahwa ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk digenggam.
Namun tetap layak disyukuri.
Dan semakin bertambah usia, semakin aku memahami bahwa itu bukanlah kehilangan.
Melainkan anugerah yang datang dalam bentuk yang berbeda.