#03 – Aku Belum Menyebutnya Cinta

“Sering kali hati telah mengetahui jawabannya jauh sebelum akal bersedia mengakuinya.”

Ada masa ketika seseorang berusaha menyembunyikan kebenaran, bukan dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri.
Aku pernah berada pada masa itu.
Setelah sekian waktu mengenalmu, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Namun aku belum berani memberi nama pada perubahan itu.

Aku memilih menyebutnya sebagai kekaguman.
Terdengar lebih aman.
Lebih masuk akal.
Lebih mudah diterima.
Lagipula, bukankah banyak orang mengagumi orang lain tanpa harus jatuh cinta?

Aku meyakinkan diriku bahwa itulah yang sedang terjadi.
Aku hanya mengagumi pribadimu.
Aku hanya menghargai kebaikanmu.
Aku hanya menghormati cara berpikirmu.
Tidak lebih.

Setidaknya itulah yang terus kuucapkan kepada diriku sendiri.
Namun semakin waktu berjalan, semakin sulit bagiku mempertahankan penjelasan itu.
Karena kekaguman biasanya tidak membuat seseorang sering teringat.
Kekaguman biasanya tidak membuat seseorang diam-diam mendoakan orang lain.

Kekaguman biasanya tidak membuat hati merasa lega ketika mengetahui bahwa orang yang dikagumi sedang baik-baik saja.
Dan yang paling menggangguku, kekaguman biasanya tidak membuat seseorang berusaha menghindari kenyataan yang sebenarnya sudah ia pahami.
Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Mengapa aku begitu peduli?
Mengapa aku begitu memperhatikan?
Mengapa aku merasa senang ketika melihatmu bahagia?
Mengapa aku merasa ikut sedih ketika mengetahui engkau sedang menghadapi kesulitan?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti.
Dan setiap kali datang, aku selalu berusaha mencari jawaban yang lain.
Jawaban apa saja.
Asal bukan jawaban yang sebenarnya.

Karena jauh di dalam hati, aku mulai takut pada satu kemungkinan.
Bagaimana jika ini memang cinta?
Bagaimana jika selama ini aku hanya berusaha menghindari kenyataan?
Bagaimana jika perasaan yang selama ini kusebut kekaguman ternyata telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam?
Pertanyaan itu membuatku gelisah.

Bukan karena aku tidak memahami maknanya.
Melainkan karena aku memahami konsekuensinya.
Sejak awal aku telah mengetahui bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Sejak awal aku mengetahui bahwa ada kenyataan yang tidak mungkin diubah.
Sejak awal aku memahami bahwa jalan hidup kita tidak dibangun untuk berjalan berdampingan.

Karena itulah aku takut mengakui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sebab begitu aku menyebutnya cinta, semuanya akan terasa berbeda.
Aku tidak lagi bisa bersembunyi di balik kata “kagum”.
Aku tidak lagi bisa berpura-pura bahwa semuanya biasa saja.

Aku harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hatiku telah memilih seseorang yang tidak mungkin kumiliki.
Dan aku belum siap untuk itu.
Maka aku terus berusaha meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah fase sementara.

Bahwa waktu akan segera menghapusnya.
Bahwa suatu hari aku akan bangun dan mendapati perasaan ini telah pergi dengan sendirinya.
Namun hari demi hari berlalu.
Minggu berganti minggu.
Bulan berganti bulan.
Dan harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Yang berubah hanyalah caraku menyikapinya.
Sedangkan perasaan itu tetap ada.
Diam.
Tenang.
Tidak menuntut apa-apa.

Tetapi juga tidak pergi ke mana-mana.
Kadang aku merasa kesal pada diriku sendiri.
Mengapa harus seperti ini?
Mengapa harus kepada dirimu?
Mengapa hati tidak memilih jalan yang lebih mudah?

Mengapa ia memilih tumbuh di tanah yang sejak awal kutahu tidak akan pernah menjadi milikku?
Aku tidak menemukan jawabannya.
Dan mungkin memang tidak ada jawaban.
Karena tidak semua hal di dunia ini dapat dijelaskan dengan logika.

Sebagian hanya bisa diterima.
Sebagian hanya bisa dijalani.
Sebagian hanya bisa diserahkan kepada waktu dan kepada Tuhan.

Pada suatu titik, aku mulai menyadari bahwa penolakanku bukan lagi ditujukan kepada perasaan itu.
Aku tidak sedang menolak cinta.
Aku sedang menolak kenyataan bahwa cinta itu hadir pada tempat yang tidak seharusnya.
Dan semakin aku memikirkannya, semakin aku memahami satu hal.

Masalahnya bukan karena aku tidak mencintaimu.
Masalahnya justru karena aku mulai menyadari bahwa aku benar-benar mencintaimu.
Namun aku belum siap mengucapkannya.
Belum siap menerimanya.
Belum siap berdamai dengannya.

Maka aku tetap memilih diam.
Tetap memilih menyangkal.
Tetap memilih menyebutnya dengan nama-nama lain.

Padahal jauh di dalam hati, aku sudah mengetahui kebenaran yang selama ini berusaha kuhindari.
Aku hanya belum berani menyebutnya cinta.
Karena aku tahu, begitu kata itu terucap, hidupku tidak akan pernah sama lagi.