#02 – Ada yang Berbeda Sejak Hari Itu
“Hati memiliki bahasa yang sering kali tidak segera dimengerti oleh pemiliknya sendiri.”
Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai berubah.
Jika harus menunjuk satu hari tertentu, aku tidak mampu.
Karena perubahan itu tidak datang seperti badai yang tiba-tiba mengubah keadaan.
Ia datang seperti embun.
Pelan.
Hampir tidak terasa.
Namun sedikit demi sedikit mengubah wajah pagi.
Setelah pertemuan itu, hidupku sebenarnya tetap berjalan seperti biasa.
Pekerjaan tetap harus diselesaikan.
Tanggung jawab tetap harus ditunaikan.
Hari-hari tetap datang dan pergi sebagaimana mestinya.
Tidak ada peristiwa besar yang terjadi.
Tidak ada cerita yang layak disebut luar biasa.
Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang berbeda.
Perbedaannya begitu kecil hingga pada awalnya aku tidak menyadarinya.
Aku mulai menantikan kesempatan untuk bertemu.
Bukan karena ada keperluan tertentu.
Bukan pula karena ada tujuan yang ingin kucapai.
Aku hanya merasa senang ketika kesempatan itu datang.
Dan merasa sedikit kecewa ketika kesempatan itu tidak ada.
Awalnya aku menganggap itu biasa.
Bukankah manusia memang senang bertemu dengan orang-orang yang baik?
Bukankah wajar jika kita merasa nyaman dengan seseorang yang menyenangkan?
Aku tidak melihat ada yang salah.
Sampai kemudian aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kupedulikan.
Aku mengingat kata-katamu lebih lama daripada yang seharusnya.
Aku tersenyum ketika mengingat percakapan yang sebenarnya sederhana.
Aku lebih mudah mengingat hal-hal tentangmu dibandingkan banyak hal lain yang jauh lebih penting.
Dan tanpa kusadari, namamu mulai muncul dalam pikiranku pada waktu-waktu yang tidak terduga.
Saat sedang bekerja.
Saat sedang beristirahat.
Saat perjalanan pulang.
Bahkan terkadang sebelum tidur.
Bukan karena aku sengaja memikirkannya.
Justru karena aku tidak sengaja.
Dan itulah yang membuatku mulai merasa aneh.
Ada sesuatu yang perlahan mengambil tempat di dalam pikiranku.
Sesuatu yang belum mampu kuberi nama.
Aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya biasa saja.
Bahwa ini hanyalah bentuk penghargaan kepada seseorang yang memiliki banyak kebaikan.
Bahwa ini hanyalah rasa hormat.
Bahwa ini hanyalah kekaguman.
Tidak lebih.
Namun semakin aku mencoba menjelaskan semuanya dengan logika, semakin aku menyadari bahwa ada bagian dari diriku yang tidak sepenuhnya percaya pada penjelasan itu.
Karena kenyataannya, tidak semua orang membuatku menunggu.
Tidak semua orang membuatku mengingat percakapan sederhana selama berhari-hari.
Tidak semua orang membuatku tersenyum hanya karena teringat sesuatu yang pernah mereka ucapkan.
Dan tidak semua orang mampu menghadirkan perasaan hangat hanya dengan keberadaannya.
Sejak saat itu, aku mulai mengenal satu kenyataan yang tidak terlalu kusukai.
Bahwa seseorang bisa menjadi penting dalam hidup kita tanpa pernah kita rencanakan.
Tanpa pernah kita undang.
Tanpa pernah kita minta.
Aku masih belum menyebutnya cinta.
Aku bahkan masih menolak kemungkinan itu.
Mungkin karena aku tahu bahwa jalan itu tidak seharusnya kutempuh.
Mungkin karena aku memahami batas-batas yang ada.
Atau mungkin karena jauh di dalam hati, aku takut pada jawaban yang akan kutemukan jika aku terlalu jujur kepada diriku sendiri.
Karena jika ini benar-benar cinta, maka aku sudah tahu sejak awal bahwa cinta itu tidak akan membawa ke mana-mana.
Dan pikiran itu cukup membuatku gentar.
Maka aku memilih diam.
Aku memilih menganggap semuanya biasa.
Aku memilih menjalani hari-hari seperti sebelumnya.
Meskipun jauh di dalam hati, aku mulai menyadari bahwa sejak pertemuan itu, ada sesuatu yang telah berubah.
Sesuatu yang belum bisa kulihat dengan jelas.
Namun cukup nyata untuk kurasakan.
Dan perubahan kecil itulah yang kelak akan membawaku pada pertanyaan yang selama ini berusaha kuhindari:
Benarkah ini cinta?