#01 – Ketika Takdir Mempertemukan Kita
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
— QS. Al-Baqarah: 216
Ada pertemuan yang telah kita rencanakan.
Ada pula pertemuan yang datang begitu saja.
Tanpa diduga.
Tanpa dicari.
Tanpa pernah kita bayangkan sebelumnya.
Begitulah hidup sering berjalan. Kita sibuk dengan urusan masing-masing, menjalani rutinitas yang sama dari hari ke hari, hingga pada suatu saat seseorang hadir dan tanpa sengaja meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.
Saat pertama kali bertemu denganmu, tidak ada sesuatu yang istimewa menurutku.
Aku tidak sedang mencari siapa pun.
Aku tidak sedang berharap apa pun.
Aku hanya menjalani hari seperti biasanya.
Namun seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa kehadiranmu berbeda.
Bukan karena penampilanmu.
Bukan karena kata-kata manismu.
Melainkan karena ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku merasa nyaman.
Ada ketulusan yang sulit dijelaskan.
Ada kebaikan yang tidak perlu dipamerkan.
Ada cara berpikir yang membuatku menghormatimu.
Dan semua itu perlahan meninggalkan jejak.
Jejak yang pada awalnya begitu samar hingga hampir tidak terlihat.
Namun seperti tetes air yang jatuh berulang kali pada batu, sedikit demi sedikit ia meninggalkan bekas.
Aku tidak pernah berniat membiarkan perasaan itu tumbuh.
Mungkin karena sejak awal aku sudah mengetahui kenyataan yang ada.
Aku tahu ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Aku tahu ada keadaan yang tidak mungkin diubah begitu saja.
Aku tahu ada jarak yang tidak dapat diukur dengan langkah kaki.
Karena itu, aku tidak pernah memberi izin kepada diriku untuk berharap terlalu jauh.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.
Aku meyakinkan diri bahwa ini hanyalah kekaguman biasa.
Bahwa semua akan berlalu seiring waktu.
Bahwa aku cukup mengenalmu sebagai seseorang yang baik tanpa harus melibatkan perasaan yang lebih dalam.
Tetapi hati sering kali memiliki caranya sendiri.
Ia tidak selalu bertanya kepada logika sebelum memilih.
Ia tidak selalu meminta persetujuan sebelum menetap.
Dan sering kali, ketika kita menyadarinya, perasaan itu sudah tumbuh lebih jauh daripada yang kita kira.
Kini ketika mengingat kembali awal semuanya, aku memahami satu hal.
Takdir tidak selalu mempertemukan dua manusia untuk berjalan berdampingan.
Kadang takdir hanya mempertemukan mereka untuk saling memberi pelajaran.
Pelajaran tentang ketulusan.
Pelajaran tentang pengendalian diri.
Pelajaran tentang menerima sesuatu yang tidak dapat dimiliki.
Saat itu aku belum memahami semua itu.
Aku hanya tahu bahwa aku telah bertemu denganmu.
Dan tanpa kusadari, sebuah perjalanan panjang di dalam hati baru saja dimulai.