#07 – Aku Tidak Akan Memilikimu

“Ada keputusan yang dibuat bukan karena kita berhenti mencintai, melainkan karena kita memilih menghormati kenyataan.”

Pada akhirnya, ada satu kenyataan yang tidak bisa lagi kuhindari.
Aku tidak akan memilikimu.

Kalimat itu pernah terasa begitu berat untuk kuucapkan, bahkan hanya kepada diriku sendiri.
Bukan karena aku masih berharap.
Bukan karena aku masih mencari kemungkinan.
Tetapi karena ada bagian dalam diri manusia yang selalu ingin menggenggam sesuatu yang berharga baginya.

Dan engkau adalah salah satu hal berharga yang pernah hadir dalam hidupku.
Mungkin bukan dalam hidupku secara nyata.
Tetapi dalam ruang batin yang selama ini diam-diam menyimpan banyak hal yang tidak pernah terucapkan.

Aku tahu bahwa keputusan ini bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam.
Ia lahir dari banyak malam yang panjang.
Dari banyak pertanyaan yang tidak menemukan jawaban.
Dari banyak percakapan dengan diriku sendiri.

Dan dari banyak doa yang hanya diketahui oleh Tuhan.
Sebab jauh sebelum aku mengucapkan kalimat itu, sebenarnya aku sudah mengetahui kebenarannya.
Aku hanya belum siap menerimanya.

Manusia memang sering seperti itu.
Kita mengetahui kenyataan jauh lebih dulu daripada kita menerimanya.
Kita memahami sesuatu jauh lebih cepat daripada kita mengikhlaskannya.

Dan aku pun tidak berbeda.
Ada masa ketika aku mencoba mencari celah.
Bukan untuk melanggar batas.

Tetapi untuk meyakinkan diriku bahwa mungkin aku terlalu pesimis.
Mungkin aku terlalu cepat menyerah.
Mungkin ada sesuatu yang belum kulihat.

Namun semakin lama aku memandang kenyataan, semakin jelas bahwa tidak ada jalan yang harus dicari.
Karena memang tidak ada jalan itu.
Yang ada hanyalah penerimaan.

Dan penerimaan selalu lebih sulit daripada harapan.
Harapan memberi kita tempat untuk bersembunyi.
Sedangkan penerimaan memaksa kita menatap kenyataan apa adanya.

Aku tidak akan memilikimu.
Bukan karena aku tidak cukup mencintaimu.
Bukan karena aku kurang berusaha.
Bukan karena aku menyerah.

Melainkan karena sejak awal hidup telah menetapkan garis-garis yang tidak boleh kulewati.
Dan aku memilih menghormati garis itu.
Sebagian orang mungkin menganggap cinta harus diperjuangkan sampai akhir.

Mungkin benar.

Tetapi tidak semua perjuangan diwujudkan dengan mendekat.
Ada cinta yang justru diperjuangkan dengan menjaga jarak.
Ada cinta yang diperjuangkan dengan menahan diri.
Ada cinta yang diperjuangkan dengan memilih diam.

Karena terkadang, mendekat bukanlah bentuk cinta yang paling mulia.
Kadang menjauh adalah bentuk penghormatan yang paling tulus.
Aku tidak ingin menjadi alasan munculnya kegelisahan dalam hidupmu.
Aku tidak ingin menjadi gangguan dalam perjalanan yang sedang kaujalani.
Aku tidak ingin kehadiranku mengusik ketenangan yang telah lama dibangun.

Karena jika aku benar-benar menyayangimu, bukankah seharusnya aku menginginkan kebaikan untukmu?
Bahkan jika kebaikan itu tidak melibatkanku.
Pemahaman itulah yang perlahan mengubah cara pandangku.

Dulu aku berpikir bahwa kehilangan berarti tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kini aku memahami bahwa kedewasaan berarti mampu menerima apa yang tidak kita dapatkan.
Tanpa membencinya.
Tanpa memusuhinya.
Tanpa menyesali hidup karenanya.

Aku tidak mengatakan bahwa semuanya menjadi mudah.
Masih ada saat-saat ketika hati terasa berat.
Masih ada hari-hari ketika aku bertanya-tanya seperti manusia biasa.
Masih ada bagian dalam diriku yang terkadang merasa sedih.

Namun kesedihan itu tidak lagi melahirkan perlawanan.
Aku tidak lagi berdebat dengan kenyataan.
Aku tidak lagi mencoba mengubah sesuatu yang memang tidak bisa diubah.

Sebaliknya, aku mulai belajar hidup bersama kenyataan itu.
Seperti seseorang yang menerima bekas luka sebagai bagian dari tubuhnya.
Ia tidak menyukainya.

Tetapi ia juga tidak lagi membencinya.
Ia hanya menerimanya.
Dan melanjutkan hidup.
Mungkin itulah yang sedang kulakukan sekarang.

Menerima.

Bukan karena aku sudah melupakanmu.
Bukan karena perasaanku telah hilang.
Tetapi karena aku mulai memahami bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kepemilikan agar tetap berarti.
Justru ada cinta yang menemukan kemuliaannya ketika ia berhenti menuntut.

Ketika ia berhenti memaksa.
Ketika ia berhenti menjadikan dirinya pusat dari segalanya.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku mengucapkan sebuah kalimat yang selama ini berusaha kuhindari.

Bukan kepada siapa pun.
Hanya kepada diriku sendiri.
Aku tidak akan memilikimu.

Dan anehnya, setelah kalimat itu terucap, tidak ada kemarahan.
Tidak ada pemberontakan.
Tidak ada penolakan.
Yang ada hanyalah kesunyian.

Kesunyian yang panjang.
Kesunyian yang membuatku memahami bahwa sebuah bab dalam hidupku telah berakhir.
Namun pada saat yang sama, bab yang lain baru saja dimulai.
Karena menerima bahwa aku tidak akan pernah memilikimu ternyata bukan akhir dari perjalanan ini.

Justru dari sanalah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
Perjalanan untuk belajar mencintai tanpa berharap memiliki.
Perjalanan untuk tetap peduli tanpa harus hadir.

Perjalanan untuk tetap mendoakan tanpa harus diketahui.
Dan aku belum tahu seberapa panjang jalan itu.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk menapakinya.