#11 – Malam yang Tidak Diketahui Siapa Pun
“Ada luka yang tidak pernah diperlihatkan kepada dunia. Ia hanya diketahui oleh pemiliknya dan oleh Tuhan.”
Tidak semua kesedihan membutuhkan saksi.
Ada kesedihan yang datang dalam diam.
Datang ketika semua orang telah pulang ke rumah masing-masing.
Datang ketika percakapan telah berakhir.
Datang ketika dunia mulai tenang dan hanya menyisakan suara hati yang selama ini tertutupi oleh kesibukan.
Aku mengalami malam seperti itu.
Malam yang mungkin tidak berbeda dengan malam-malam lainnya.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada kabar buruk.
Tidak ada peristiwa yang mengubah hidup.
Namun entah mengapa, malam itu terasa berbeda.
Rumah begitu sunyi.
Langit di luar jendela tampak gelap.
Jam terus berdetak seperti biasa.
Dan utuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi berusaha melarikan diri dari pikiranku sendiri.
Aku membiarkan semuanya datang.
Kenangan.
Pertanyaan.
Kesedihan.
Dan semua hal yang selama ini kusimpan rapat-rapat.
Selama bertahun-tahun aku berusaha menjadi kuat.
Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
Bahwa aku sudah menerima kenyataan.
Bahwa aku sudah memahami batas-batas yang ada.
Bahwa hidup harus terus berjalan.
Dan memang benar.
Hidup terus berjalan.
Tetapi malam itu aku menyadari sesuatu.
Berjalan bukan berarti sembuh.
Menerima bukan berarti tidak terluka.
Memahami bukan berarti tidak bersedih.
Aku duduk sendirian cukup lama.
Tidak melakukan apa-apa.
Hanya membiarkan pikiranku berjalan ke tempat-tempat yang selama ini kuhindari.
Dan untuk pertama kalinya aku mengakui sesuatu yang selama ini tidak pernah kuucapkan.
Aku lelah.
Bukan lelah bekerja.
Bukan lelah menghadapi kehidupan.
Tetapi lelah menyimpan semuanya sendirian.
Lelah berpura-pura bahwa semua ini mudah.
Lelah berpura-pura bahwa aku selalu baik-baik saja.
Karena kenyataannya, ada bagian dari diriku yang masih terluka.
Bukan olehmu.
Bukan oleh siapa pun.
Melainkan oleh kenyataan yang tidak pernah berubah.
Kenyataan bahwa aku harus hidup berdampingan dengan perasaan yang tidak pernah menemukan tempatnya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya aku berhenti melawan rasa lelah itu.
Aku tidak lagi mencoba terlihat kuat di hadapan diriku sendiri.
Aku tidak lagi mencoba menjadi orang yang selalu mampu memahami segala sesuatu.
Aku hanya menjadi manusia biasa.
Manusia yang sesekali merasa rapuh.
Manusia yang sesekali merasa kehilangan arah.
Manusia yang sesekali bertanya mengapa hidup harus berjalan seperti ini.
Aku menatap ke luar jendela cukup lama.
Lalu aku menyadari sesuatu yang sederhana.
Selama ini aku terlalu fokus pada apa yang tidak bisa kumiliki.
Aku terlalu fokus pada batas-batas yang tidak bisa kulewati.
Aku terlalu fokus pada kenyataan yang tidak bisa kuubah.
Hingga aku lupa melihat hal-hal yang masih ada di sekitarku.
Keluarga yang tetap mencintaiku.
Teman-teman yang tetap peduli.
Pekerjaan yang masih harus kuselesaikan.
Tanggung jawab yang masih harus kutunaikan.
Dan Tuhan yang selama ini tetap menemaniku melewati semua ini.
Malam itu aku tidak menemukan jawaban atas semua pertanyaanku.
Aku tidak mendapatkan keajaiban.
Aku tidak mendengar suara yang menjelaskan mengapa semua ini terjadi.
Namun aku menemukan sesuatu yang lain.
Kejujuran.
Kejujuran kepada diriku sendiri.
Bahwa aku memang terluka.
Bahwa aku memang sedih.
Bahwa aku memang belum sepenuhnya baik-baik saja.
Dan ternyata mengakui semua itu tidak membuatku menjadi lemah.
Justru sebaliknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit lebih ringan.
Karena aku tidak lagi bersembunyi dari diriku sendiri.
Malam semakin larut.
Kesunyian masih ada.
Namun ada sesuatu yang mulai berubah.
Untuk pertama kalinya aku tidak lagi bertanya mengapa perasaan ini masih tinggal.
Aku tidak lagi bertanya kapan semuanya akan berakhir.
Aku hanya duduk dalam diam dan membiarkan diriku merasakan semuanya.
Dan di tengah kesunyian itulah, sesuatu yang selama bertahun-tahun kutahan perlahan mulai runtuh.
Bukan amarah.
Bukan penyesalan.
Bukan kekecewaan.
Melainkan bendungan kesedihan yang selama ini kusimpan terlalu lama.
Aku belum menangis malam itu.
Namun aku tahu, air mata itu sudah tidak jauh lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, aku tidak berniat menahannya.