#10 – Ketika Hati Kehilangan Arah
“Ada kelelahan yang tidak terlihat di wajah. Ia hanya terasa di dalam hati yang terlalu lama berusaha kuat.”
Aku pernah berpikir bahwa setelah menerima kenyataan, hidup akan kembali berjalan seperti biasa.
Aku pernah berpikir bahwa setelah memilih menjaga jarak, semuanya perlahan akan menjadi lebih ringan.
Aku pernah berpikir bahwa waktu akan mengurus sisanya.
Namun hidup ternyata memiliki pelajarannya sendiri.
Perasaan itu memang tidak lagi bergolak seperti dulu.
Aku tidak lagi melawan kenyataan.
Aku tidak lagi mencari kemungkinan yang tidak ada.
Aku tidak lagi bertanya mengapa hidup berjalan seperti ini.
Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari dalam diriku.
Semangat.
Harapan.
Keceriaan yang dulu begitu mudah muncul.
Aku masih menjalani hidup seperti biasa.
Aku tetap bekerja.
Tetap menjalankan tanggung jawab.
Tetap berbicara dan tersenyum kepada orang-orang di sekitarku.
Dari luar, tidak ada yang berubah.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam diriku.
Bahkan mungkin jika saat itu seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja, aku akan menjawab dengan cepat:
“Aku baik-baik saja.”
Dan mungkin aku sendiri ingin mempercayai jawaban itu.
Namun jauh di dalam hati, aku mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
Bukan karena aku kehilangan seseorang.
Karena sejak awal aku memang tidak pernah memilikimu.
Bukan karena ada perpisahan.
Karena bahkan tidak pernah ada kebersamaan yang harus diakhiri.
Tetapi ada bagian dalam diriku yang perlahan merasa letih.
Letih menerima kenyataan yang sama setiap hari.
Letih memahami batas yang sama setiap hari.
Letih membawa perasaan yang tidak memiliki tempat untuk dituju.
Aku tidak marah kepada siapa pun.
Tidak kepadamu.
Tidak kepada keadaan.
Tidak pula kepada Tuhan.
Aku hanya merasa lelah.
Dan kelelahan seperti itu ternyata jauh lebih sulit dijelaskan daripada kesedihan.
Kesedihan biasanya memiliki sebab yang jelas.
Tetapi kelelahan hati sering kali datang perlahan.
Menumpuk sedikit demi sedikit.
Hingga suatu hari kita menyadari bahwa sesuatu di dalam diri kita telah berubah.
Aku mulai kehilangan minat terhadap banyak hal.
Hal-hal yang dulu membuatku bersemangat terasa biasa saja.
Hal-hal yang dulu membuatku bahagia tidak lagi memberikan rasa yang sama.
Hari-hari berjalan tanpa warna yang jelas.
Tidak buruk.
Tetapi juga tidak benar-benar baik.
Aku menjalani hidup seperti seseorang yang terus berjalan tanpa mengetahui ke mana sebenarnya ia sedang menuju.
Dan itulah yang paling menakutkan.
Bukan rasa sakit.
Bukan kesedihan.
Melainkan kehilangan arah.
Ada malam-malam ketika aku duduk sendirian dan bertanya kepada diriku sendiri.
Apa sebenarnya yang sedang kucari?
Apa sebenarnya yang kuharapkan?
Bukankah aku sudah menerima semuanya?
Bukankah aku sudah memahami kenyataannya?
Lalu mengapa hati ini masih terasa begitu berat?
Aku tidak menemukan jawabannya.
Yang kutemukan hanyalah kesunyian.
Kesunyian yang semakin hari terasa semakin akrab.
Aku mulai menarik diri dari banyak hal.
Bukan karena aku membenci dunia.
Bukan karena aku tidak peduli kepada orang-orang di sekitarku.
Tetapi karena aku tidak memiliki tenaga untuk menjelaskan apa yang bahkan tidak mampu kupahami sendiri.
Ada masa ketika aku lebih memilih diam.
Lebih memilih menyendiri.
Lebih memilih tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Dan tanpa kusadari, kesunyian itu perlahan menjadi tempat tinggal yang baru.
Padahal jauh di dalam hati, aku tahu bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam kesunyian yang terlalu lama.
Aku membutuhkan jawaban.
Aku membutuhkan makna.
Aku membutuhkan alasan untuk kembali melangkah dengan penuh semangat.
Namun pada saat itu, semua terasa begitu jauh.
Yang ada hanyalah hari-hari yang berjalan lambat.
Dan hati yang terus bertanya tanpa menemukan jawaban.
Mungkin inilah titik terendah dalam perjalanan ini.
Bukan ketika aku menyadari bahwa aku mencintaimu.
Bukan ketika aku menerima bahwa aku tidak akan memilikimu.
Melainkan ketika aku mulai kehilangan diriku sendiri di tengah semua penerimaan itu.
Aku tidak menyadari bahwa aku sedang berjalan menuju sebuah malam yang akan mengubah banyak hal.
Sebuah malam yang tidak diketahui siapa pun.
Sebuah malam ketika untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berhenti berpura-pura kuat.
Dan malam itu sedang menungguku.