#17 – Biarkan Cinta Menemukan Jalannya
“Pada akhirnya, tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan. Sebagian berakhir dengan kedamaian.”
Jika aku bisa kembali kepada diriku yang dulu, kepada pria yang pertama kali menyadari bahwa hatinya mulai memilih seseorang yang tidak mungkin dimilikinya, mungkin ada satu hal yang ingin kukatakan kepadanya.
Jangan takut.
Perjalanan ini memang akan panjang.
Kadang membingungkan.
Kadang menyakitkan.
Kadang melelahkan.
Bahkan ada saat-saat ketika engkau merasa kehilangan arah.
Namun percayalah, semua ini tidak akan sia-sia.
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang mendapatkan seseorang.
Perjalanan ini adalah tentang menemukan dirimu sendiri.
Aku tersenyum ketika mengingat semua yang telah kulalui.
Penyangkalan.
Pergulatan.
Kesedihan.
Air mata.
Kesunyian.
Penerimaan.
Semua itu terasa begitu nyata ketika sedang dijalani.
Namun kini, ketika kulihat dari kejauhan, semuanya tampak seperti rangkaian pelajaran yang saling terhubung.
Tidak ada yang sia-sia.
Tidak ada yang kebetulan.
Bahkan rasa sakit yang pernah kurasakan pun memiliki maknanya sendiri.
Karena rasa sakit itu mengajarkanku kesabaran.
Kesunyian mengajarkanku kedekatan dengan Tuhan.
Kehilangan arah mengajarkanku pentingnya tujuan hidup.
Dan cinta yang tidak bisa kumiliki mengajarkanku arti ketulusan.
Dulu aku mengira bahwa akhir dari perjalanan ini adalah melupakanmu.
Ternyata bukan.
Dulu aku mengira bahwa akhir dari perjalanan ini adalah ketika perasaan itu hilang.
Ternyata bukan juga.
Karena kini aku memahami bahwa tujuan perjalanan ini bukanlah melupakan.
Melainkan menerima.
Bukan menghapus.
Melainkan memahami.
Bukan memaksa hati berubah.
Melainkan mengizinkan hati bertumbuh menjadi lebih dewasa.
Aku tidak tahu apakah perasaan itu masih ada dalam bentuk yang sama seperti dulu.
Mungkin tidak.
Waktu telah mengubah banyak hal.
Kehidupan telah mengubah banyak hal.
Namun aku tahu satu hal.
Apa pun yang tersisa hari ini, semuanya telah menjadi lebih tenang.
Lebih damai.
Lebih dekat kepada rasa syukur daripada rasa kehilangan.
Jika suatu hari seseorang bertanya kepadaku apakah aku menyesal pernah mencintaimu, jawabanku sederhana.
Tidak.
Aku tidak menyesal.
Karena melalui perasaan itu aku belajar banyak hal yang tidak akan kupelajari dengan cara lain.
Aku belajar bahwa manusia tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Aku belajar bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan cara yang kita harapkan.
Aku belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Dan aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari tercapainya keinginan.
Kadang kebahagiaan lahir dari kemampuan menerima.
Menerima bahwa hidup memiliki jalannya sendiri.
Menerima bahwa Tuhan mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Menerima bahwa ada takdir yang tidak perlu dipahami untuk tetap dipercaya.
Kini aku tidak lagi memandang perjalanan ini sebagai kisah tentang seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Aku memandangnya sebagai kisah tentang seorang manusia yang sedang belajar.
Belajar mencintai.
Belajar melepaskan.
Belajar menghormati batas.
Belajar menerima ketentuan Tuhan.
Dan yang paling penting, belajar tetap berjalan meskipun tidak semua keinginannya menjadi kenyataan.
Karena hidup memang seperti itu.
Tidak semua pintu terbuka.
Tidak semua harapan terwujud.
Tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan.
Namun hidup tetap layak dijalani.
Tetap layak disyukuri.
Tetap layak dicintai.
Aku masih menjalani hari-hariku seperti manusia biasa.
Masih memiliki tanggung jawab.
Masih memiliki mimpi.
Masih memiliki orang-orang yang harus kusayangi.
Dan setiap pagi ketika membuka mata, aku memahami bahwa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Itu sudah merupakan anugerah yang besar.
Sementara itu, tentang dirimu…
Aku tidak lagi memiliki pertanyaan.
Aku tidak lagi memiliki tuntutan.
Aku tidak lagi memiliki harapan yang harus diwujudkan.
Aku hanya memiliki doa-doa baik yang sesekali terucap.
Dan rasa syukur karena pernah dipertemukan denganmu pada suatu masa dalam hidupku.
Mungkin memang bukan untuk dimiliki.
Mungkin memang bukan untuk berjalan bersama.
Namun cukup untuk mengajarkan sesuatu yang akan kubawa sepanjang hidupku.
Dan kini, setelah semua perjalanan itu, aku akhirnya memahami makna dari kalimat yang selama ini kucari.
Bahwa cinta tidak selalu membutuhkan arah yang sama.
Tidak selalu membutuhkan tujuan yang sama.
Tidak selalu membutuhkan akhir yang sama.
Kadang cinta hanya perlu dibiarkan menjadi dirinya sendiri.
Tumbuh.
Berubah.
Menjadi lebih dewasa.
Lalu menemukan jalannya sendiri.
Maka hari ini aku tidak lagi berusaha menahan.
Aku tidak lagi berusaha mengejar.
Aku tidak lagi berusaha menghapus.
Aku hanya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, Sang Pemilik Hati.
Jika perasaan itu harus memudar, biarlah memudar dengan tenang.
Jika perasaan itu harus tetap tinggal, biarlah tinggal sebagai pengingat akan ketulusan.
Jika semua ini hanyalah bagian dari pelajaran hidup, maka aku menerimanya dengan syukur.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang berhasil kita miliki.
Hidup adalah tentang siapa yang berhasil membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.
Dan jika aku menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Tuhan karena perjalanan ini, maka tidak ada alasan untuk menyesalinya.
Aku tersenyum.
Menatap perjalanan panjang yang telah kulalui.
Lalu melangkah ke depan dengan hati yang tenang.
Karena kini aku tahu…
“Biarkan cinta menemukan jalannya”
Dan biarkan Tuhan menyempurnakan segala sesuatu pada waktunya.