#16 – Namamu Masih Ada dalam Doaku
“Ada nama yang tidak lagi kita sebut dalam percakapan, tetapi masih sesekali hadir dalam doa.”
Aku pernah berpikir bahwa suatu hari namamu akan benar-benar hilang dari hidupku.
Bukan karena aku menginginkannya.
Melainkan karena itulah yang biasanya dilakukan waktu terhadap banyak hal.
Waktu membuat manusia lupa.
Waktu menghapus jejak.
Waktu memudarkan kenangan.
Setidaknya begitulah yang sering dikatakan orang.
Namun setelah sekian banyak tahun berlalu, aku menyadari bahwa waktu tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada hal-hal yang tidak dihapusnya.
Hanya diubah bentuknya.
Dan mungkin, itulah yang terjadi padamu.
Dulu namamu hadir dalam banyak pertanyaan.
Kini tidak lagi.
Dulu namamu hadir dalam berbagai pergulatan.
Kini tidak lagi.
Dulu namamu sering muncul bersama harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
Kini harapan-harapan itu telah lama pergi.
Namun ada satu tempat di mana namamu masih sesekali hadir.
Doaku.
Bukan setiap hari.
Bukan setiap waktu.
Bukan pula karena aku sengaja mengingatmu.
Tetapi terkadang, ketika aku berdoa tentang banyak hal dalam hidup, namamu melintas begitu saja.
Seperti tamu lama yang datang dengan sopan.
Tidak mengganggu.
Tidak memaksa.
Hanya hadir sebentar.
Lalu pergi kembali.
Dan setiap kali itu terjadi, aku tidak lagi merasa perlu melawannya.
Aku tidak lagi bertanya mengapa.
Aku tidak lagi mencoba menghapusnya.
Aku hanya membiarkannya hadir.
Karena aku memahami bahwa tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan seseorang.
Terlebih seseorang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Doa-doa itu sederhana.
Tidak rumit.
Tidak panjang.
Tidak meminta sesuatu yang luar biasa.
Hanya doa-doa kecil yang mungkin sering terucap untuk banyak orang yang kita sayangi.
Semoga engkau sehat.
Semoga keluargamu diberi kebahagiaan.
Semoga langkah-langkahmu selalu dipenuhi keberkahan.
Semoga Tuhan menjaga orang-orang yang kau cintai.
Dan semoga hidupmu dipenuhi ketenangan.
Sesederhana itu.
Tidak ada lagi keinginan untuk menjadi bagian dari cerita itu.
Tidak ada lagi keinginan untuk hadir di dalamnya.
Aku hanya berharap cerita itu berjalan dengan baik.
Karena semakin bertambah usia, aku menyadari bahwa hidup ini sebenarnya sangat rapuh.
Kita tidak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu yang masih diberikan kepada kita.
Kita tidak pernah tahu siapa yang akan lebih dahulu pergi.
Kita tidak pernah tahu pertemuan mana yang ternyata menjadi pertemuan terakhir.
Kesadaran itu membuatku semakin menghargai setiap doa yang masih bisa kupanjatkan.
Karena pada akhirnya, doa adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling tulus.
Ia tidak meminta imbalan.
Ia tidak mencari pengakuan.
Ia bahkan tidak membutuhkan kehadiran.
Ia hanya mengalir dari hati yang berharap kebaikan bagi orang lain.
Dan mungkin itulah yang tersisa dari seluruh perjalanan panjang ini.
Bukan harapan.
Bukan penyesalan.
Bukan pula keinginan.
Melainkan doa.
Ada masa ketika aku takut bahwa perasaan ini akan tinggal selamanya.
Kini aku tidak lagi takut.
Karena aku memahami bahwa yang tinggal bukan lagi gejolak cinta seperti dahulu.
Yang tinggal adalah rasa hormat.
Rasa syukur.
Dan kepedulian yang telah menemukan bentuknya yang paling tenang.
Kadang aku membayangkan, mungkin tanpa kau sadari, ada seseorang yang sesekali menyebut namamu dalam doa-doanya.
Bukan karena ingin memilikimu.
Bukan karena ingin mengubah apa pun.
Melainkan karena ia pernah belajar banyak hal melalui kehadiranmu.
Dan cara terbaik untuk menghormati pelajaran itu adalah dengan terus mendoakan kebaikanmu.
Aku tidak tahu apakah itu terdengar aneh.
Namun bagiku, itu terasa sangat alami.
Karena setelah semua tahun yang berlalu, aku akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.
Kadang ia berakhir menjadi doa.
Dan mungkin, itu bukan akhir yang buruk.
Karena doa tidak mengenal jarak.
Doa tidak membutuhkan pertemuan.
Doa tidak membutuhkan kepemilikan.
Ia hanya membutuhkan ketulusan.
Dan selama Tuhan masih mengizinkanku mengangkat tangan untuk berdoa, mungkin sesekali namamu akan tetap hadir di sana.
Bersama nama-nama lain yang juga kucintai.
Bersama orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Bersama harapan-harapan baik yang tidak lagi menuntut apa pun.
Aku tidak lagi meminta agar Tuhan mempertemukan jalan kita.
Aku tidak lagi meminta agar keadaan berubah.
Aku tidak lagi meminta jawaban atas berbagai pertanyaan yang dulu pernah memenuhi pikiranku.
Aku hanya berdoa.
Semoga engkau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Semoga kehidupanmu dipenuhi kebaikan.
Semoga keluargamu diberi kebahagiaan.
Dan semoga ketika suatu hari perjalanan hidup ini berakhir, kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan yang baik.
Karena pada akhirnya, itulah tujuan dari setiap perjalanan manusia.
Bukan kepada sesama manusia.
Melainkan kepada Tuhan.
Dan ketika aku memahami itu, aku menyadari bahwa namamu yang masih hadir dalam doaku bukan lagi sebuah luka.
Ia telah menjadi bagian dari rasa syukur.
Bagian dari penerimaan.
Dan bagian dari ketenangan yang telah lama kucari.