Tobat
Ada hal-hal yang tidak perlu diceritakan.
Termasuk urusan saya dengan Tuhan.
Saya tidak pandai berkata-kata soal tobat.
Tidak pernah merasa cukup baik untuk berkata “saya sudah berubah.”
Tapi dalam hati, ada ruang yang terus saya isi dengan penyesalan
untuk mengingat bahwa saya pernah jauh, dan Allah masih memberi waktu untuk dekat.
Terkadang saya berusaha untuk duduk lama setelah shalat, hanya diam.
Bukan karena tak tahu doa apa yang mau dipanjatkan,
tapi karena takut semua doa saya terdengar terlalu egois —
sementara saya sendiri belum banyak berubah.
Tapi saya tetap mencoba.
Perlahan.
Dalam diam.
Dengan cara yang hanya saya dan Allah yang tahu.
Bukan dengan pernyataan besar, bukan dengan pengakuan terbuka.
Hanya dengan sikap yang sedikit demi sedikit saya luruskan.
Hanya dengan hati yang saya ajak bicara lebih jujur setiap malam.
Ustadz saya pernah berkata, Allah lebih suka orang yang berbenah dengan diam-diam…
Saya percaya, tobat yang tenang, tetap sampai ke langit,
kalau lahir dari hati yang sungguh-sungguh ingin kembali.
Dan saya hanya ingin menjadi hamba yang tahu diri.
Yang sadar bahwa hidup ini tidak lama,
dan bahwa satu langkah menuju kebaikan lebih berarti
daripada seribu alasan untuk tetap seperti dulu.