Mengapa Allah Mengharamkan Riba?

Disampaikan pada kajian Seninan,  3 Juli 2026 di Desa Mangunegara, Mrebet, Pbg

“Setiap larangan Allah bukanlah untuk membatasi kebahagiaan manusia, tetapi untuk melindungi mereka dari penderitaan yang sering kali belum mereka sadari.”

Ketika mendengar kata “riba”, sebagian orang langsung membayangkan bunga bank, pinjaman, atau cicilan. Lalu muncul pertanyaan, *”Kalau sama-sama saling setuju, mengapa riba tetap diharamkan?”*

Pertanyaan itu sebenarnya sangat wajar. Karena sekilas, riba terlihat seperti transaksi biasa. Ada yang meminjam. Ada yang memberi pinjaman. Keduanya sepakat.

Lalu di mana letak salahnya? Jawabannya bukan sekadar pada proses transaksinya. Tetapi pada **dampak yang ditimbulkannya**, baik bagi individu maupun masyarakat.

# Allah Tidak Pernah Mengharamkan Sesuatu Tanpa Hikmah

Dalam kehidupan, kita sering melarang anak melakukan sesuatu. Jangan main di jalan raya , Jangan bermain api. Jangan menyentuh kabel listrik dll.
Larangan itu bukan karena kita ingin membatasi kebebasannya. Tetapi karena kita mengetahui akibat yang belum ia pahami. Begitu pula Allah.
Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Ketika Allah mengharamkan riba, bukan berarti Allah tidak ingin manusia menjadi kaya.
Justru sebaliknya. Allah ingin manusia memperoleh kekayaan dengan cara yang membawa keberkahan, ketenangan, dan keadilan.

# Riba Membuat Uang Menghasilkan Uang

Dalam perdagangan, seseorang memperoleh keuntungan karena ada usaha. Ada risiko. Ada tenaga. Ada waktu. Ada nilai yang diberikan kepada orang lain.
Sedangkan dalam riba, keuntungan diperoleh hanya karena seseorang memiliki uang. Uang berkembang bukan karena ada aktivitas produktif, tetapi karena waktu berlalu. Semakin lama orang lain kesulitan membayar, semakin besar keuntungan yang diterima pemberi pinjaman. Di sinilah letak persoalannya.
Keuntungan satu pihak sering kali bertambah justru ketika penderitaan pihak lain semakin berat.

# Riba Memanfaatkan Kesulitan Orang

Coba bayangkan seseorang yang terpaksa meminjam uang. Mungkin karena anaknya sakit. Usahanya bangkrut. Biaya sekolah.
Atau kebutuhan hidup yang mendesak. Saat itulah ia berada pada posisi paling lemah. Seharusnya ia ditolong. Tetapi dalam sistem riba, justru kondisi sulit itu menjadi kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Semakin lama ia belum mampu melunasi utangnya, semakin besar beban yang harus ia tanggung.
Padahal Islam mengajarkan hal yang berbeda. Orang yang sedang kesulitan justru dianjurkan diberi kelonggaran, bahkan bila mampu, sebagian atau seluruh utangnya bisa diikhlaskan sebagai sedekah. Betapa indahnya ajaran itu.

# Riba Melahirkan Lingkaran yang Sulit Diputus

Banyak orang awalnya hanya meminjam sedikit. Lalu muncul bunga. Karena belum mampu membayar, bunga ditambahkan lagi. Utang baru digunakan untuk menutup utang lama. Akhirnya hidup dihabiskan hanya untuk membayar kewajiban yang tidak kunjung selesai. Tidak sedikit keluarga yang kehilangan ketenangan karena persoalan utang. Suami istri bertengkar. Tidur tidak nyenyak. Setiap telepon berbunyi, jantung berdegup lebih cepat.
Setiap akhir bulan datang, muncul kecemasan baru. Semua itu perlahan menggerogoti ketenangan hidup.

# Allah Menginginkan Ekonomi yang Berkeadilan

Islam tidak melarang orang menjadi kaya. Bahkan banyak sahabat Nabi yang merupakan pedagang sukses.
Yang dilarang adalah memperoleh keuntungan dengan cara yang merugikan orang lain. Dalam ekonomi Islam, keuntungan lahir dari aktivitas yang nyata.
Dari perdagangan. Dari produksi. Dari kerja sama. Dari investasi yang disertai risiko. Bukan dari memanfaatkan kelemahan sesama manusia.
Karena itu, Islam mengenalkan konsep seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, dan berbagai akad lain yang mendorong kerja sama, bukan eksploitasi.

# Mengapa Larangannya Sangat Tegas?

Di dalam Al-Qur’an, larangan riba termasuk salah satu larangan yang paling keras.
Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu benar-benar beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”
(QS. Al-Baqarah: 278–279)

Ayat ini membuat banyak ulama merenung. Mengapa sampai menggunakan ungkapan “perang dari Allah dan Rasul-Nya”?
Karena riba bukan hanya merusak satu orang. Ia perlahan merusak keluarga. Merusak hubungan sosial. Merusak keadilan ekonomi.
Merusak rasa saling tolong-menolong. Bahkan dalam skala besar dapat memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin.

# Tetapi Bukankah Banyak Orang Kaya Karena Riba?

Memang. Di dunia ini kita bisa menemukan banyak orang yang tampak sukses melalui sistem berbasis riba.
Namun Islam mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya bertambahnya harta. Yang lebih penting adalah “keberkahan”.
Ada orang yang penghasilannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan. Ada yang hartanya terus bertambah tetapi keluarganya berantakan.
Ada pula yang tampak sederhana, namun rumahnya dipenuhi ketenangan. Keberkahan tidak selalu terlihat dari jumlah.
Keberkahan terlihat dari manfaat, ketenangan, dan kebaikan yang menyertainya.

# Allah Tidak Menghalangi Rezeki

Sebagian orang takut meninggalkan riba karena khawatir rezekinya berkurang. Padahal Allah justru berjanji,

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
*(QS. Al-Baqarah: 276)

Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan bahwa harta riba pasti langsung habis. Tetapi Allah menggunakan kata “memusnahkan”.
Kadang pemusnahan itu bukan pada angkanya. Melainkan pada keberkahannya. Harta terasa banyak tetapi selalu habis.
Penghasilan naik, pengeluaran ikut melonjak. Ada saja musibah, penyakit, atau masalah yang mengurasnya.
Sebaliknya, harta yang halal sering kali terasa cukup meski jumlahnya tidak sebesar yang lain.

# Hijrah Memang Tidak Mudah

Bagi banyak orang, keluar dari sistem riba bukan perkara sederhana. Ada cicilan. Ada utang. Ada kebutuhan keluarga. Ada berbagai keterbatasan.
Karena itu, hijrah finansial bukan tentang menyalahkan masa lalu. Bukan pula tentang menghakimi orang lain.
Hijrah adalah perjalanan. Dimulai dari memahami. Kemudian memperbaiki niat. Lalu berusaha sedikit demi sedikit mencari jalan keluar yang lebih diridhai Allah.
Allah melihat setiap langkah, sekecil apa pun.

# Renungan

Mungkin selama ini kita memandang larangan riba hanya sebagai aturan agama.
Padahal jika direnungkan lebih dalam, larangan itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Allah tidak ingin kita hidup dalam lingkaran utang yang menyesakkan.
Allah tidak ingin hubungan antarmanusia dibangun di atas penderitaan salah satu pihak.
Allah menginginkan ekonomi yang dipenuhi kejujuran, keadilan, dan saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, harta bukan hanya tentang “berapa banyak yang kita miliki”, tetapi juga “bagaimana cara kita mendapatkannya”, dan “ke mana harta itu akan mengantarkan kita”.