Mengapa Setiap Orang Sebaiknya Menulis
Ada satu kebiasaan kecil yang menurut saya akan memberikan manfaat luar biasa dalam hidup, tetapi justru sering diabaikan. Kebiasaan itu adalah menulis.
Bukan menulis buku yang tebal. Bukan pula menulis artikel yang sempurna. Cukup menulis apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita pelajari, atau apa yang kita alami hari ini.
Karena sesungguhnya, hidup kita dipenuhi oleh banyak pelajaran. Sayangnya, sebagian besar pelajaran itu hilang begitu saja karena tidak pernah kita simpan.
Dulu saya juga berpikir bahwa menulis hanya untuk orang-orang yang pandai merangkai kata. Untuk penulis, wartawan, dosen, atau mereka yang memang memiliki bakat di bidang literasi. Ternyata saya salah. Semakin bertambah usia, saya justru menyadari bahwa menulis bukan soal kemampuan, melainkan soal keinginan untuk mengabadikan perjalanan hidup.
Ada banyak peristiwa yang dulu terasa begitu penting. Ada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita. Ada kegagalan yang pernah membuat kita jatuh. Ada doa-doa yang pernah kita panjatkan sambil menahan air mata. Hari ini mungkin kita masih mengingat semuanya. Tetapi lima tahun lagi? Sepuluh tahun lagi? Belum tentu.
Ingatan manusia perlahan memudar. Waktu berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Tulisanlah yang membantu kita mengingat kembali. Menulis juga mengajarkan kita untuk berpikir lebih pelan.
Di zaman sekarang, semuanya terasa begitu cepat. Orang berlomba memberikan komentar. Berlomba menjadi yang pertama. Berlomba membuat konten. Namun sedikit yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya kepada dirinya sendiri. “Apa yang sebenarnya sedang saya pelajari dari semua ini?”
Ketika kita menulis, kita dipaksa untuk berpikir lebih dalam. Kadang baru ketika jari mulai mengetik, kita menyadari bahwa selama ini pikiran kita sebenarnya sedang berantakan. Tulisan perlahan menyusunnya menjadi lebih rapi. Saya juga percaya bahwa setiap orang memiliki cerita. Tidak harus cerita yang luar biasa.
Justru cerita-cerita sederhana sering kali lebih menyentuh. Tentang seorang ayah yang pulang bekerja dengan tubuh lelah. Tentang seorang ibu yang setiap hari memasak tanpa pernah mengeluh. Tentang seseorang yang sedang berjuang melunasi hutangnya. Tentang seorang anak yang berusaha membahagiakan orang tuanya.
Semua itu adalah kisah kehidupan. Mungkin terlihat biasa. Tetapi bagi orang lain, bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Ada satu hal lagi yang membuat saya terus ingin menulis. Saya sadar, usia terus bertambah. Suatu hari nanti mungkin saya sudah tidak lagi bisa berbicara seperti sekarang.
Mungkin suara saya sudah tidak lagi terdengar. Tetapi tulisan…,Tulisan bisa tetap tinggal. Ia mungkin akan dibaca oleh anak-anak. Oleh orang-orang yang bahkan belum pernah kita kenal. Mungkin suatu hari ada seseorang yang sedang putus asa, lalu tanpa sengaja menemukan satu tulisan kita. Lalu ia berkata dalam hati,
“Ternyata saya tidak sendirian.”
Kalau satu tulisan saja bisa menguatkan satu orang, bukankah itu sudah menjadi sesuatu yang sangat berharga? Menulis juga bukan hanya untuk orang lain.
Justru sering kali, tulisan itu kita buat untuk diri kita sendiri. Saya beberapa kali membaca kembali catatan yang saya tulis bertahun-tahun lalu.
Rasanya seperti bertemu dengan diri sendiri di masa lalu.
Saya tersenyum. Kadang tertawa. Kadang juga terharu.
Ternyata dulu saya pernah melewati masa-masa yang begitu berat. Dan ternyata, Allah sudah menolong saya melewati semuanya.Kalau dulu bisa bertahan, mengapa sekarang harus menyerah? Tulisan menjadi pengingat bahwa kita pernah kuat.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti tulisan-tulisan ini akan dibaca oleh banyak orang. Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tetapi saya percaya, tidak ada tulisan yang sia-sia ketika ditulis dengan niat yang baik.
Karena setiap kata adalah jejak perjalanan. Setiap kalimat adalah saksi bahwa kita pernah belajar. Pernah jatuh. Pernah bangkit. Pernah berharap. Dan pernah bersyukur.
Jadi, kalau hari ini Anda masih ragu untuk mulai menulis, jangan menunggu menjadi ahli. Jangan menunggu memiliki banyak waktu. Jangan menunggu tulisan menjadi sempurna. Mulailah dari satu paragraf. Besok satu halaman. Lusa mungkin satu artikel. Lama-kelamaan, Anda tidak hanya sedang mengumpulkan tulisan. Anda sedang menyusun kepingan-kepingan kehidupan yang suatu hari nanti akan menjadi warisan, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk siapa pun yang membutuhkannya.
Karena pada akhirnya, setiap orang akan meninggalkan sesuatu ketika ia pergi. Ada yang meninggalkan harta. Ada yang meninggalkan bangunan. Ada yang meninggalkan nama. Dan ada pula yang meninggalkan pemikiran melalui tulisan.
Saya berharap, ketika waktu itu tiba, akan ada beberapa tulisan sederhana yang masih terus hidup, menemani seseorang yang sedang mencari jawaban, memberi semangat kepada yang hampir menyerah, atau sekadar mengingatkan bahwa dalam hidup ini, kita semua sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.