#15 – Aku Belajar Mencintai Tanpa Memiliki
“Tidak semua cinta meminta untuk digenggam. Sebagian hanya meminta untuk dijaga agar tetap tulus.”
Jika seseorang mengatakan kepadaku bertahun-tahun yang lalu bahwa aku akan belajar mencintai tanpa memiliki, mungkin aku tidak akan mempercayainya.
Karena pada saat itu, seperti kebanyakan manusia, aku menganggap cinta dan kepemilikan sebagai dua hal yang berjalan bersama.
Ketika mencintai seseorang, tentu kita ingin dekat dengannya.
Tentu kita ingin menjadi bagian dari hidupnya.
Tentu kita ingin hadir dalam cerita yang sedang ia jalani.
Bukankah itu wajar?
Dan memang tidak ada yang salah dengan keinginan seperti itu.
Ia adalah bagian dari sifat manusia.
Bagian dari hati yang ingin berbagi perjalanan dengan seseorang yang dianggap berharga.
Namun hidup ternyata mengajarkan pelajaran yang tidak selalu mudah.
Ada kalanya kita dipertemukan dengan seseorang yang begitu berarti, tetapi tidak ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Pada awalnya aku melawan pelajaran itu.
Aku mencoba memahami.
Aku mencoba menerima.
Aku mencoba mencari jalan keluar.
Namun semakin lama aku berjalan, semakin aku menyadari bahwa persoalannya bukan tentang menemukan jalan keluar.
Persoalannya adalah tentang belajar hidup bersama kenyataan.
Dan kenyataan itu sederhana.
Aku mencintaimu.
Tetapi aku tidak akan memilikimu.
Dulu kalimat itu terasa seperti kekalahan.
Kini aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Karena setelah melalui begitu banyak pergulatan, aku mulai memahami bahwa cinta dan kepemilikan ternyata bukan hal yang sama.
Kita bisa memiliki seseorang tanpa benar-benar mencintainya.
Dan kita juga bisa mencintai seseorang tanpa pernah memilikinya.
Mungkin itulah yang sedang kupelajari selama ini.
Belajar memisahkan antara rasa sayang dan keinginan memiliki.
Belajar menerima bahwa keduanya tidak selalu berjalan bersama.
Aku tidak mengatakan bahwa pelajaran itu mudah.
Justru sebaliknya.
Ada banyak malam yang panjang.
Ada banyak pertanyaan yang melelahkan.
Ada banyak kesedihan yang harus kulewati.
Namun semua itu perlahan membentuk pemahaman baru di dalam diriku.
Bahwa cinta yang terus menuntut akan selalu merasa kekurangan.
Sedangkan cinta yang belajar menerima akan menemukan ketenangan.
Aku mulai memahami bahwa selama ini yang membuatku terluka bukanlah cintanya.
Melainkan keinginanku.
Keinginan agar keadaan berbeda.
Keinginan agar kehidupan mengambil jalan yang lain.
Keinginan agar kenyataan tidak seperti yang ada sekarang.
Dan ketika satu demi satu keinginan itu kulepaskan, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Perasaan itu tidak hilang.
Tetapi bebannya berkurang.
Aku masih peduli.
Aku masih menghormatimu.
Aku masih mendoakanmu.
Namun aku tidak lagi merasa harus memiliki tempat dalam hidupmu.
Aku tidak lagi merasa harus menjadi bagian dari setiap kebahagiaanmu.
Aku tidak lagi merasa harus mengetahui segala sesuatu tentangmu.
Aku cukup bersyukur karena pernah mengenalmu.
Dan ternyata rasa syukur jauh lebih menenangkan daripada rasa memiliki.
Karena rasa memiliki selalu dibayangi ketakutan kehilangan.
Sedangkan rasa syukur hanya mengajarkan kita menghargai apa yang pernah diberikan kehidupan.
Kadang aku masih bertemu denganmu.
Kadang kehidupan mempertemukan kita dalam situasi yang sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang berubah.
Engkau tetap menjalani hidupmu.
Aku tetap menjalani hidupku.
Dan setiap kali itu terjadi, aku menyadari betapa banyak diriku telah berubah.
Dulu pertemuan-pertemuan kecil seperti itu mampu mengguncang seluruh ketenanganku.
Kini tidak lagi.
Bukan karena perasaanku telah hilang.
Melainkan karena aku tidak lagi melawannya.
Aku tidak lagi memaksanya menjadi sesuatu yang bukan tempatnya.
Aku hanya menerimanya sebagai bagian dari diriku.
Seperti seseorang menerima bekas luka lama yang sesekali masih terlihat.
Ia tidak lagi menyakitkan.
Tetapi tetap menjadi bagian dari cerita hidupnya.
Mungkin itulah yang sedang terjadi.
Aku tidak lagi mencoba menghapusmu dari perjalanan hidupku.
Karena aku menyadari bahwa beberapa orang memang hadir untuk menjadi bagian dari perjalanan itu.
Bukan untuk dimiliki.
Bukan untuk digenggam.
Tetapi untuk mengajarkan sesuatu yang berharga.
Dan pelajaran yang kau tinggalkan dalam hidupku mungkin adalah ini:
Bahwa ketulusan tidak selalu diukur dari seberapa erat kita menggenggam.
Kadang ketulusan justru terlihat dari kemampuan kita melepaskan keinginan untuk menggenggam.
Lalu tetap menjaga rasa hormat dan kasih sayang yang ada.
Aku tidak tahu apakah semua orang akan memahami bentuk cinta seperti ini.
Mungkin sebagian orang akan menganggapnya aneh.
Mungkin sebagian lagi akan menganggapnya sia-sia.
Namun bagiku, perjalanan ini telah mengubah banyak hal.
Ia mengajarkanku kesabaran.
Mengajarkanku pengendalian diri.
Mengajarkanku penghormatan terhadap batas-batas kehidupan.
Dan yang terpenting, ia mengajarkanku bahwa hati manusia ternyata mampu mencintai tanpa harus memiliki.
Kini ketika aku memikirkanmu, aku tidak lagi dipenuhi pertanyaan.
Aku tidak lagi dipenuhi penyesalan.
Aku tidak lagi dipenuhi harapan yang mustahil.
Yang tersisa hanyalah sebuah doa yang tenang.
Semoga engkau selalu berada dalam kebaikan.
Semoga keluargamu berada dalam keberkahan.
Semoga kehidupanmu dipenuhi ketenangan.
Dan semoga aku pun diberikan kekuatan untuk terus menjalani hidup yang telah Tuhan tetapkan bagiku.
Karena pada akhirnya, aku memahami satu hal.
Mencintaimu bukanlah tujuan dari perjalanan ini.
Pelajaran yang kutemukan melalui perasaan itulah yang menjadi tujuan sebenarnya.
Dan dari semua pelajaran itu, mungkin yang paling berharga adalah ini:
Aku telah belajar mencintai tanpa harus memiliki.