Mengapa Allah Tidak Selalu Mengabulkan Doa Kita Saat Itu Juga
Kalau boleh jujur, mungkin hampir semua dari kita pernah bertanya seperti itu. Kita berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan, tetapi bulan demi bulan belum juga ada kabar. Kita berdoa agar diberi kesembuhan, tetapi rasa sakit masih menemani.
Kita memohon agar hutang segera lunas, usaha membaik, anak berubah menjadi lebih baik, keluarga kembali harmonis, atau masalah hidup segera selesai. Namun kenyataannya, hari berganti hari, seolah langit masih diam.
Padahal jawabannya sudah sangat jelas. Allah bukan hanya mendengar. Bahkan Allah mengetahui isi hati kita sebelum kata-kata itu sempat keluar dari bibir kita.
Yang sering kita lupakan adalah, “Allah mendengar doa kita, tetapi Allah juga mengetahui waktu terbaik untuk mengabulkannya.”
Bayangkan seorang anak kecil meminta ayahnya membelikan sepeda motor. Anaknya menangis, memohon, bahkan mungkin marah ketika permintaannya ditolak. Bagi sang anak, penolakan itu terasa menyakitkan.
Namun bagi ayahnya, itu adalah bentuk kasih sayang. Bukan karena ayah tidak sayang. Justru karena terlalu sayang. Anak itu belum siap. Begitu pula kita. Kadang kita meminta sesuatu yang menurut kita baik. Padahal Allah melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat.
Kita hanya melihat hari ini. Allah melihat lima tahun lagi. Kita hanya melihat satu jalan. Allah melihat seluruh perjalanan hidup. Bukankah sering kali setelah bertahun-tahun berlalu kita baru berkata, “Untung dulu doa itu belum dikabulkan.” Ternyata pekerjaan yang dulu gagal didapatkan membuat kita bertemu peluang yang jauh lebih baik.
Ternyata orang yang dulu meninggalkan kita justru menyelamatkan kita dari kehidupan yang penuh luka.
Ternyata kegagalan yang kita tangisi menjadi pintu menuju keberhasilan yang tidak pernah kita bayangkan.
Seringkali Kadang masalahnya bukan pada doa kita. Masalahnya adalah diri kita belum siap menerima jawaban dari doa itu. Seperti petani yang menanam benih. Ia tidak setiap hari menggali tanah untuk melihat apakah benihnya sudah tumbuh. Ia menyiram. Ia merawat. Ia menunggu. Kalau benih dipaksa keluar sebelum waktunya, justru ia akan mati. Demikian juga doa.
Ada doa yang memang membutuhkan proses agar hati kita menjadi lebih matang, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah. Boleh jadi, jika doa itu langsung dikabulkan sejak awal, kita justru menjadi sombong, lupa bersyukur, atau bahkan semakin jauh dari-Nya.
Kadang kita mengira doa yang belum terkabul berarti ditolak. Padahal tidak selalu demikian. Para ulama menjelaskan bahwa doa seorang hamba bisa dijawab dengan beberapa cara. Kadang Allah langsung mengabulkannya. Kadang Allah menundanya karena ada waktu yang lebih baik. Kadang Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan kadang Allah menghindarkan kita dari musibah yang bahkan tidak pernah kita sadari. Bukankah ini menunjukkan betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya?
Sering kali kita menganggap tujuan doa adalah mendapatkan apa yang kita minta. Padahal mungkin tujuan terbesar dari doa adalah mendekatkan kita kepada Allah. Coba renungkan. Saat hidup sedang nyaman, seberapa sering kita benar-benar menangis dalam doa? Namun ketika masalah datang, kita bangun malam. Kita lebih khusyuk.
Lebih sering membaca Al-Qur’an. Lebih banyak berdzikir. Lebih sering mengangkat tangan.
Bukankah justru pada saat itulah hubungan kita dengan Allah menjadi lebih dekat?
Boleh jadi, kalau semua doa langsung dikabulkan dalam hitungan menit, kita justru akan lebih jarang mengetuk pintu-Nya.
Ada satu pelajaran yang sering baru kita pahami ketika usia mulai bertambah. Allah tidak pernah terlambat. Yang sering terlambat adalah pemahaman kita. Ketika melihat ke belakang, kita mulai menyadari bahwa setiap kejadian ternyata memiliki waktunya sendiri. Ada pintu yang ditutup agar kita tidak masuk ke jalan yang salah. Ada jalan yang diperlambat agar kita bertemu orang yang tepat. Ada doa yang ditunda agar nikmatnya datang pada saat kita benar-benar siap. Dan semua itu baru terasa indah ketika kita melihatnya dari kejauhan.
Mungkin hari ini masih ada doa yang belum juga terkabul. Tetaplah berdoa. Tetaplah berusaha. Tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Karena hubungan kita dengan Allah bukan hubungan antara pelanggan dan penjual, yang semua permintaan harus langsung dipenuhi.
Hubungan kita adalah hubungan antara hamba dengan Rabb yang Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang kita inginkan. Dia juga mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan. Dan sering kali, keduanya tidak sama.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
*(QS. Al-Baqarah: 216)
Jika hari ini masih ada doa yang terasa menggantung di langit, jangan buru-buru berputus asa. Barangkali Allah sedang menyiapkan waktu yang lebih indah. Barangkali Allah sedang memperbaiki hati kita sebelum memperbaiki keadaan kita. Dan barangkali, suatu hari nanti, kita akan menoleh ke belakang sambil tersenyum Karena ternyata, penundaan itu bukanlah penolakan. Penundaan itu adalah bentuk kasih sayang.