#2 – Pengalaman Pertama Saya Bicara…

Saya masih ingat momen itu dengan jelas

Dulu, saya pernah mengalami momen yang benar-benar tak terlupakan. Saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan otomotif, dan seorang teman, yang sebenarnya belum begitu akrab, tiba-tiba mengajak saya ke rumahnya. Katanya, ada acara silaturahmi keluarga bersama teman-teman nya. Saya pikir, ini hanya kumpul santai, makan, dan ngobrol. Tidak ada persiapan apa pun di kepala saya. Namun, begitu sampai di sana, suasana berubah. Tiba-tiba, tanpa peringatan, tuan rumah meminta saya maju untuk memberi sambutan awal.

Jantung saya langsung berdetak kencang, tangan terasa dingin, dan pikiran mendadak kosong. Saya berdiri di depan orang-orang yang sebagian besar bahkan tidak saya kenal. Kata-kata keluar terbata-bata, tidak jelas arah kalimatnya. Mungkin sambutan itu hanya berlangsung dua atau tiga menit, tapi rasanya seperti selamanya.

tapi momen berikutnya lebih bikin berdegub lagi, ketika harus berbicara di acara seminar, Panitia mendekati saya dengan senyum manis tapi “berbahaya”, lalu berkata, “mas, besok mewakili Bapak….” Saya cuma bisa senyum kaku—antara mau nolak tapi gak enak, dan mau terima tapi panik.

Malam itu, bukannya tidur nyenyak, saya malah sibuk menulis ulang kalimat-kalimat yang akan saya ucapkan. Ada rasa senang, karena akan bicara di hadapan orang-orang dan tamu “penting”. Tapi juga ada rasa takut, takut kalau tiba-tiba blank, atau suara saya malah gemetar.

Menjelang giliran bicara, tangan saya dingin. Jantung berdebar lebih kencang dari biasanya. Saya coba mengulang-ulang kalimat yang sudah saya siapkan di kepala, tapi semua tiba-tiba hilang.

Ketika mikrofon diserahkan ke saya, rasanya seperti berdiri di tengah hujan pandangan. Mata semua orang seakan menyorot saya. Suara slam pembuka saya keluar, tapi agak goyah.

Untungnya saya datang dengan senjata: secarik kertas penuh coretan hafalan dan catatan kecil. Mic saya pegang di tangan kanan, kertas di tangan kiri. Posisi itu bukan cuma buat gaya, tapi biar saya bisa berpegangan, dan tidak terlihat kaku. Tangan saya sempat berkeringat dingin, tapi saya pura-pura cuek. Dalam hati, saya bisikkan: “Tenang… ini cuma ‘pidato’, bukan ujian matematika.”

Ternyata, saat kalimat demi kalimat keluar dan saya lihat senyum hadirin di bangku depan, rasa takut itu perlahan luntur. Setelah beberapa menit, saya akhiri dengan “Sekian, mohon maaf kalau banyak kekurangan…”. Dan saya langsung duduk.

Jujur, saya merasa gagal. Tapi ternyata banyak yang datang menepuk bahu saya dan bilang, “Bagus, mas. …”

Ucapan itu menyadarkan saya satu hal penting: Tidak harus sempurna untuk bisa menginspirasi. Kadang, keberanian kita justru membuat orang lain semangat. Ada kehangatan, ada rasa syukur. Dan di sanalah saya sadar, bicara di depan umum bukan tentang sempurna, tapi tentang keberanian untuk mulai. Kadang kita perlu dipaksa maju dulu, baru tahu kalau kita bisa.

Saya tidak langsung jadi percaya diri setelah itu. Tapi satu hal berubah, Saya tidak lagi terlalu takut. Dan dari situlah, saya mulai belajar.
Jika Anda pernah mengalami situasi serupa, atau mungkin suatu hari nanti diminta bicara, ingat,  tidak harus lancar, cukup berani saja.
Kita semua punya cerita. Kita semua bisa belajar.